KARYA PENULIS ANAK BANGSA
MERARI SIREGAR
Merari
Siregar (lahir di Sipirok, Sumatera Utara pada 13 Juli 1896 dan wafat di
Kalianget, Madura, Jawa Timur pada 23 April 1941) adalah sastrawan Indonesiaangkatan
Balai Pustaka. Karyanya yang paling populer adalah Azab dan sengsara diterbitkan
pada tahun 1920. Prosa berbentuk roman itu muncul saat pemerintah kolonial
Belanda sedang gencar-gencarnya melaksanakan politik etis yang ditandai dengan
berdirinya Conunissie Voor Volkslectuur (Komisi untuk Bacaan Rakyat).
Selain
dikenal sebagai sastrawan, dalam kesehariannya ia bekerja sebagai guru.
Profesinya sebagai guru sedikit banyak berpengaruh pada gaya bercerita dan
karya sastranya, baik karya asli maupun saduran. Penggunaan bahasa yang lancar
dan rapi, ia tonjolkan dalam setiap karyanya untuk menarik pembaca. Di samping
bahasa yang enak dibaca, Merari juga memberi nasihat, mengecam ketidakadilan,
serta memberi pujian pada tindakan yang tidak menyalahi aturan ataupun norma
yang berlaku dalam masyarakat.

Merari
Siregar merintis karirnya sebagai pendidik dengan terlebih dahulu
bersekolah di sekolah guru yang dulu dikenal dengan istilah Kweekschool
kemudian dilanjutkan ke Oosr en West, 'Timur dan Barat' yang berlokasi di
Gunung Sahari, Jakarta. Selanjutnya pada tahun 1923, pendidikan keguruannya
dilanjutkan di sekolah swasta yang didirikan oleh sebuah organisasi bernama
Vereeniging Tot Van Oost En West.
Setelah
menyelesaikan studinya, Merari Siragar mengawali
kiprahnya di dunia pendidikan dengan bekerja sebagai guru bantu di Medan. Dari ibukota
provinsi Raja Pejuang Batak melawan Kolonialis Belanda Sumatera Utara itu,
ia kemudian pindah bekerja di Jakarta, tepatnya di Rumah Sakit CBZ atau yang
sekarang lebih dikenal dengan nama Rumah Sakit Mendirikan Indische Partij
(1912) Cipto Mangunkusumo. Terakhir, ia bekerja di Opium end Zouregie di daerah
Kalianget, Madura, hingga akhir hayatnya.
Karya-karyanya
yang terkenal adalah
1. Azab
dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka. Cet. 1 tahun 1920,Cet.4 1965.
2. Binasa
Karena Gadis Priangan. Jakarta: Balai Pustaka 1931.
MARAH
RUSLI BIN ABU BAKAR
Marah Rusli bin Abu Bakar dilahirkan di Padang, 07
Agustus 1889. Ayahnya bernama Abu Bakar, beliau seorang bangsawan dengan gelar
Sultan Pangeran. Ayahnya bekerja sebagai Demang. Sedangkan ibunya, adalah berasal
dari Jawa dan keturunan Sentot Alibasyah, salah seorang panglima perang
Pangeran Diponegoro. Marah Rusli bersekolah dasar di Padang yang menggunakan
bahasa Belanda sebagai pengantar. Setelah lulus, ia melanjutkan ke sekolah Raja
(Kweek School) di Bukit Tinggi, lulus tahun 1910. Setelah itu, ia melanjutkan
sekolah ke Vee Arstsen School (sekolah dokter hewan). Di Bogor dan lulus tahun
1915. Setelah tamat, ia ditempatkan di Sumbawa Besar sebagai Ajung Dokter
Hewan. Tahun 1916 ia menjadi Kepala Peternakan.
Pada tahun 1920, Marah Rusli diangkat sebagai asisten dosen Dokter Hewan Wittkamp di Bogor. Karena berselisih dengan atasannya, orang Belanda, ia diskors selama setahun. Selama menjalani skorsing itulah ia menulis novel Siti Nurbaya pada tahun 1921. Karirnya sebagai dokter hewan membawanya berpindah-pindah ke berbagai daerah. Tahun 1921-1924 ia bertugas di Jakarta, kemudian di Balige antara tahun 1925-1929 dan Semarang antara tahun 1929-1945. Tahun 1945, Marah Rusli bergabung dengan Angkatan Laut di Tegal dengan pangkat terakhir Mayor. Ia mengajar di Sekolah Tinggi Dokter Hewan di Klaten tahun 1948 dan sejak tahun 1951 ia menjalani masa pensiun. Marah Rusli menikah dengan seorang gadis keturunan sunda kelahiran Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1911. Mereka mempunyai 3 orang anak, dua diantaranya laki-laki dan satu perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli. Tetapi, Marah Rusli tetap kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.
Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya. Dalam Siti Nurbaya, telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya.
Pada tahun 1920, Marah Rusli diangkat sebagai asisten dosen Dokter Hewan Wittkamp di Bogor. Karena berselisih dengan atasannya, orang Belanda, ia diskors selama setahun. Selama menjalani skorsing itulah ia menulis novel Siti Nurbaya pada tahun 1921. Karirnya sebagai dokter hewan membawanya berpindah-pindah ke berbagai daerah. Tahun 1921-1924 ia bertugas di Jakarta, kemudian di Balige antara tahun 1925-1929 dan Semarang antara tahun 1929-1945. Tahun 1945, Marah Rusli bergabung dengan Angkatan Laut di Tegal dengan pangkat terakhir Mayor. Ia mengajar di Sekolah Tinggi Dokter Hewan di Klaten tahun 1948 dan sejak tahun 1951 ia menjalani masa pensiun. Marah Rusli menikah dengan seorang gadis keturunan sunda kelahiran Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1911. Mereka mempunyai 3 orang anak, dua diantaranya laki-laki dan satu perempuan. Perkawinan Marah Rusli dengan gadis sunda bukanlah perkawinan yang diinginkan oleh orang tua Marah Rusli. Tetapi, Marah Rusli tetap kokoh pada sikapnya, dan ia tetap mempertahankan perkawinannya.
Marah Rusli berpendidikan tinggi dan buku-buku bacaannya banyak yang berasal dari Barat yang menggambarkan kemajuan zaman. Ia kemudian melihat bahwa adat yang melingkupinya tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman. Hal itu melahirkan pemberontakan dalam hatinya yang dituangkannya ke dalam karyanya, Siti Nurbaya. Ia ingin melepaskan masyarakatnya dari belenggu adat yang tidak memberi kesempatan bagi yang muda untuk menyatakan pendapat atau keinginannya. Dalam Siti Nurbaya, telah diletakkan landasan pemikiran yang mengarah pada emansipasi wanita. Cerita itu membuat wanita mulai memikirkan akan hak-haknya, apakah ia hanya menyerah karena tuntutan adat (dan tekanan orang tua) ataukah ia harus mempertahankan yang diinginkannya.
Ceritanya menggugah dan meninggalkan kesan
yang mendalam kepada pembacanya. Kesan itulah yang terus melekat hingga sampai
kini. Setelah lebih delapan puluh tahun novel itu dilahirkan, Siti Nurbaya
tetap diingat dan dibicarakan. Selain Siti Nurbaya, Marah Rusli juga menulis beberapa
roman lainnya. Akan tetapi, Siti Nurbaya itulah yang terbaik. Roman itu
mendapat hadiah tahunan dalam bidang sastra dari Pemerintah Republik Indonesia
pada tahun 1969 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia.
Karya
Karya
Siti Nurbaya. Jakarta : Balai Pustaka.
1920 mendapat hadiah dari Pemerintah RI tahun 1969.
Lasmi. Jakarta : Balai Pustaka. 1924.
Anak dan Kemenakan. Jakarta : Balai Pustaka. 1956.
Memang Jodoh (naskah roman dan otobiografis)
Tesna Zahera (naskah Roman)
Lasmi. Jakarta : Balai Pustaka. 1924.
Anak dan Kemenakan. Jakarta : Balai Pustaka. 1956.
Memang Jodoh (naskah roman dan otobiografis)
Tesna Zahera (naskah Roman)
Muhammad Kasim
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
|
Mohammad Kasim
|
|
|
M. Kasim
|
|
|
Lahir
|
|
|
Suku
|
|
|
Agama
|
|
Muhammad Kasim (kelahiran 1886) adalah seorang guru sekolah
dasar dan penulis yang telah menerbitkan beberapa buku.
Koleksi kisah pendeknya yang berjudul "Teman Doedoek" dianggap
sebagai koleksi cerita pendek modern pertama dalam sastra Indonesia.[1]
Biografi[sunting | sunting sumber]
Karya[sunting | sunting sumber]
·
Pemandangan dalam Dunia
Kanak-Kanak (1928, cerita anak-anak)
·
Muda Teruna (1922, novel)
·
"Bertengkar dan
Berbisik" (cerita anak-anak)
·
"Bual di Kedai
Kopi" (cerita anak-anak)
·
"Ja Binuang Pergi
Berburu" (cerita anak-anak)
·
Pangeran Hindi (1931, terjemahan cerita anak-anak)
·
Teman Doedoek (1936, koleksi cerita pendek)
Referensi[sunting | sunting sumber]
1.
^ Rampan, Korrie Layun
(2001). Leksikon Susastra Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
hlm. 309. ISBN 979-666-358-9.
BIOGRAFI ABAS SUTAN PAMUNTJAK NAN SATI - SASTRAWAN ANGKATAN BALAI
PUSTAKA
Profil Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati
·
Lahir: 17 Februari 1899 Magek, Agam, Hindia Belanda
·
Meninggal : 4 Oktober 1975 (umur 76), Indonesia, Jakarta
·
Kebangsaan: Indonesia
·
Nama lain: Antares dan Rinaldo
·
Pekerjaan: Sastrawan
·
Agama: Islam
Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati adalah seorang sastrawan Indonesia. Dalam berkarya, Abas sering menggunakan nama samaran seperti Antares dan Rinaldo. Di samping itu, ia juga pernah menyingkat namanya seperti Abas St Pamuntjak Nan Sati, A St Pamuntjak N S, dan Aspns. Dia dikenal sebagai penulis novel Pertemuan (1927).
Latar Belakang Kesastraan
Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati dilahirkan pada tanggal 17 Februari 1899, di Magek, Bukittinggi, Sumatra Barat. Abas mulai menulis sejak usia lima belas tahun. Saat itu ia duduk di Kweekschool. Banyak tulisannya yang mengisi beberapa surat kabar, misalnya Oetoesan Melajoe dan Tjaja Soematera.
Abas mulai dikenal melalui novel Pertemuan yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada tahun 1927. Dalam peta perjalanan sastra Indonesia, Abas digolongkan oleh Ajip Rosidi sebagai pengarang angkatan Balai Pustaka.
Pendidikan dan Karier:
Sekolah rendah swasta di Magek, tahun 1908-1911.
·
Sekolah privat di Bukittinggi, tahun
1911-1913.
·
Pendidikan di Kweekschool Tahun 1914-1920 sambil
mengikuti kursus bahasa pada tahun 1918.
·
Inlandse MO tahun 1929-1930.
·
Guru sekolah, tahun 1920-1942 di berbagai kota di
Sumatra Barat.
·
Setelah pindah ke Jakarta, ia menjadi dosen pada
Sekolah Guru Tinggi pada tahun 1946-1949.
·
Diangkat menjadi pegawai Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan pada tahun 1949.
·
Diangkat menjadi dosen di Universitas Indonesia
pada tahun 1949.
Karya
Abas Sutan Pamuntjak Nan Sati menulis novel, puisi, dan feuilleton. Di samping itu, ia juga menulis dan menerjemahkan buku-buku pelajaran, misalnya ilmu bumi, sejarah, ilmu pendidikan, ilmu alam, dan ilmu menggambar. Namun hingga saat ini, karya-karyanya belum dapat ditemukan.
Karya-karya Abas Sutan Pamuntjak yang telah diterbitkan:
·
Dagang Melarat (novel), terbit tahun 1926.
·
Pertemuan (novel) terbit tahun 1927.
·
Puteri Zahara atau Bunga Tanjung di Pasar Pasir
Afrika (novel), terbit tahun 1947.
·
Jambangan (kumpulan sajak), terbit tahun 1947.
Novel Pertemuan
Novel ini bercerita mengenai kebahagiaan yang akan tercapai bukan dengan memutuskan hubungan secara radikal dengan zaman silam, tetapi dengan jalan tetap setia kepada semangat Minangkabau yang sebenarnya. sinopsis novel pertemuan karya abas sutan, biografi aman datuk madjoindo
BIOGRAFI
NUR SUTAN ISKANDAR
Muhammad Nur atau yang lebih dikenal dengan nama Nur Sutan
Iskandar lahir pada tanggal 3 November 1893 di Sungaibatang, Maninjau,
Sumatera Barat. Adapun asal usul namanya menjadi Nur Sutan Iskandar bermula
ketika ia menikahi Aminah. Oleh keluarga Aminah, ia diberi gelar Sutan
Iskandar. Sejak itu, ia memakai gelar itu dipadukan dengan nama aslinya menjadi
Nur Sutan Iskandar.
Dari perkawinannya dengan Aminah itu, Nur Sutan memperoleh lima anak:
1) Nursinah Supardo, lahir 5 Januari 1918, 2) Nursjiwan Iskandar, lahir
6 November 1921, 3) Nurma Zainal Abidin, lahir 24 Mei 1925, 4) Nurtinah
Sudjarno lahir 7 Agustus 1928, dan 5)Nurbaity Iskandar, lahir 22 Maret 1933.
Dua dari lima anaknya, yaitu Nursinah Supardo dan Nursjiwan Iskandar menuruni
bakatnya, gemar dengan dunia karang mengarang.
Nur kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya di tempat
kelahirannya, Sungaibatang. Sungai Batang itu terletak di tepi Danau Maninjau.
Keindahan kampungnya dan suasana kehidupan masyarakat di kampungnya itu,
betul-betul diresapinya. Hal ini terlihat kemudian dari karya-karya yang
dilahirkannya. Dallam Pengalaman Masa Kecil (1949), misalnya,
Nur Sutan Iskandar dengan jelas bercerita tentang keindahan kampung halamannya
dan suka duka masa kecilnya. Sementara itu, dalam Apa Dayaku karena Aku
Perempuan (1923), Cinta yang Membawa Maut (1926), Salah
Pilih (1928), dan Karena Menua (1932), ia banyak
bercerita tentang kepincangan yang terjadi dalam masyarakatnya, khususnya yang
berkaitan dengan adat istiadat.
Nur Sutan Iskandar menamatkan pendidikan sekolah
rakyatnya pada tahun 1909. Setahun berikutnya, ia diangkat menjadi guru bantu
di sekolah yang sama. Setelah itu, ia pindah ke kota Padang. Selanjutnya tahun
1919, ia meninggalkan kota Padang dan hijrah ke Jakarta. Di Jakarta, ia bekerja
di Balai Pustaka mengoreksi naskah-naskah karangan yang masuk ke redaksi. Ia
mendapat tugas itu dari Sutan Muhammad Zein, Pemimpin Balai Pustaka saat itu.
Di Balai Pustaka itulah, ia banyak memperoleh pengalaman dan pengetahuan
mengenai dunia karang mengarang dan juga mulai terasah bakatnya ke arah
itu.
Ketika berkesempatan mengikuti Kongres Pemuda di Surabaya
(1930-an), ia berkenalan dengan Dokter Sutomo, tokoh pendiri Budi Utomo. Oleh
Dr. Sutomo, ia diajak berkeliling kota Surabaya. Hampir semua tempat di
sana mereka kunjungi, tidak terkecuali tempat pelacuran. Bakat menulisnya yang
sudah tumbuh, mulai memainkan peran. Pengalaman di tempat pelacuran itu,
kemudian dituangkannya menjadi karangan yang diberi judul Neraka
Dunia (1937).
Meskipun hanya berijazah sekolah dasar, Nur Sutan
Iskandar dikenal sebagai orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Oleh karena
itu, sambil bekerja ia terus berusaha untuk menambah pengetahuannya, baik
secara formal maupun nonformal. Pada tahun 1921, ia dinyatakan lulus dari Kleinambtenaar ‘pegawai
kecil’ di Jakarta dan tahun 1924, ia juga mendapat ijazah dari Gemeentelijkburen
Cursus ‘Kursus Pegawai Pamongpraja’ di Jakarta. Sementara itu, ia juga
terus memperdalam kemampuan berbahasa Belandanya.
Berkat ketekunannya, ia diangkat sebagai Pemimpin
Redaksi Balai Pustaka (1925—1942) dan Kepala Pengarang Balai Pustaka
(1942—1945). Pada saat-saat itulah, kekereatifannya sebagai penulis sangat
berkembang. Nur Sutan Iskandar termasuk penulis yang produktif. Tidak saja
menulis karya asli, ia juga menulis karya saduran dan terjemahan. Hal itu
dimungkinkan karena penguasaan bahasa asingnya cukup baik.
Tokoh Angkatan Balai Pustaka ini (seangkatan dengan Merari Siregar,
Marah Rusli, dan Hamka) menghembuskan nafasnya yang terakhir di Jakarta, pada
usia 82 tahun, tepatnya tanggal 28 November 1975.
Karya Nur Sutan Iskandar
Sebagai pengarang, Nur Sutan Iskandar tergolong
produktif. Selama hidupnya, ia berhasil menulis puluhan buku, baik karya asli,
saduran, maupun terjemahan. Berikut ini adalah daftar karya-karyanya yang sudah
diterbitkan.
a) Karya Asli
|
(1) Apa Dayaku karena Aku
Perempuan (Jakarta: Balai Pustaka, 1923)
(2) Cinta yang Membawa
Maut (Jakarta: Balai Pustaka, 1926)
(3) Salah Pilih (Jakarta:
Balai Pustaka, 1928)
(4) Abu Nawas (Jakarta:
Balai Pustaka, 1929)
(5) Karena Mentua (Jakarta: Balai
Pustaka, 1932)
(6) Tuba Dibalas dengan
Susu (Jakarta: Balai Pustaka, 1933)
(7) Dewi Rimba (Jakarta:
Balai Pustaka, 1935)
(8) Hulubalang Raja (Jakarta:
Balai Pustaka, 1934)
(9) Katak Hendak Jadi
Lembu (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)
(10) Neraka Dunia (Jakarta: Balai
Pustaka, 1937)
(11) Cinta dan Kewajiban (Jakarta:
Balai Pustaka, 1941)
(12) Jangir Bali (Jakarta: Balai
Pustaka, 1942)
(13) Cinta Tanah Air (Jakarta:
Balai Pustaka, 1944)
(14) Cobaan (Turun ke Desa) (Jakarta:
Balai Pustaka, 1946)
(15) Mutiara (Jakarta: Balai Pustaka,
1946)
(16) Pengalaman Masa Kecil (Jakarta:
Balai Pustaka, 1949)
(17) Ujian Masa (Jakarta: JB
Wolters, 1952, cetakan ulang)
(18) Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah
Rakyat Kelas II
(Jakarta: JB Wolters, 1952)
(19) Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat
Kelas III (Jakarta: JB Wolters, 1952)
(20) Peribahasa (Karya bersama
dengan K. Sutan Pamuncak dan Aman Datuk Majoindo. Jakarta: JB Wolters, 1946)
(21) Sesalanm Kawin (t.t.)
|
b) Karya Saduran
(1) Si
Bakhil (Moliere. Jakarta: JB Wolters, 1926)
(2) Pelik-pelik Pendidikan I--IV (Jan Ligthrta.
Jakarta: JB
Wolters, 1952).
c. Karya Terjemahan
|
(1) Tiga
Orang Panglima Perang (Alexander Dumas: Balal Pustaka, 1922)
(2) Dua
Puluh Tahun Kemudian (Alexander Dumas. Jakarta: Balai Pustaka, 1925)
(3) Graaf
de Monte Cristo I--IV (Alexander Dumas. Jakarta: Balai Pustaka,
1925)
(4) Belut Kena
Ranjau I--Il (Banonesse Orczy. Jakarta: JB Wolters, 1951)
(5) Anjing
Setan (A. Conan Doyle. Jakarta: Balai Pustaka, 1928)
(6) Anak
Perawan di Jalan Sunyi (A. Conan Doyle. Jakarta: Balai Pustaka,
1928)
(7) Gudang
Intan Nabi Sulaeman (H. Rider Haggard. Jakarta: Balai Pustaka, 1929)
(8) Kasih
Beramuk dalam Hati (Beatrice Harraden. Jakarta: Balai Pustaka, 1931)
(9) Memperebutkan
Pusaka Lama (Edouard Kijzer. Jakarta: Balai Pustaka 1932) V
(10) Iman
dan Pengasihan I--IV (H. Sienkiewicz. Jakarta: Balai Pustaka, 1933)
(11) Permainan
Kasti (F.H.A. Claesen. Jakarta: Balai Pustaka, 1940)
(12) Perjalanan
Ahmad ke Eropa (N.K. Bieger. Jakarta: Balai Pustaka, 1940)
(13) Sayur-Sayuran
Negeri Kita (J.J. Ochse. Jakarta: Balai Pustaka, 1942)
(14) Pablo (Lidow.
Jakarta: Penerbit dan Balai Buku Indonesia, 1948)
(15) Asal
Binatang (Giane Anguissola. Jakarta: t.p., 1948)
(16) Si
Buyung (S. Franke. Jakarta: t.p., 1949) V
(17) Bersiap (C.
Wilkeshuis. Jakarta: Noorhoffkolff, 1949)
(18) Pengajaran
di Sweden (Jan Lighthart. Jakarta: JB Wolters,
(19) Sepanjang
Garis Kehidupan (R. Kasimier. Jakarta: JB Wolters,1951)
(20) Medan Perdagangan (K.
Gritter. Jakarta: JB Wolters, 1951)
(21) Edison
Sripustaka (K. Gritter. Jakarta: Balai Pustaka, t.t.)
(22) Maw
Volksalmanak (K. Gritter. Jakarta: Balai Pustaka, t.t.)
|
PERANAN
BESAR HM ZAINUDDIN DALAM PENULISAN SEJARAH ACEH
HM Zainuddin bukan saja seorang
penulis buku sejarah tapi juga seorang sastrawan. Karyanya yang begitu
monumental adalah roman berjudul Jeumpa Aceh yang sempat dicetak dalam bahasa
Sunda dan sangat laris di pasaran pada masanya.
Demikian disampaikan Budayawan
Aceh Nab Bahany AS saat menjadi salah satu narasumber di diskusi perdana
Masyarakat Pecinta Sejarah Aceh (Mapesa), yang dilaksanakan di aula BNPB Banda
Aceh, Sabtu, 14 Februari 2015.
"Beliau termasuk penulis di
Balai Pustaka seangkatan dengan Marah Rusli, pencipta roman Siti Nurbaya,"
kata Nab Bahany.
Selain itu, Nab Bahany juga
mengungkap ada dua buku sejarah milik HM Zainuddin yang belum sempat dicetak
karena dibawa banjir. Dua buku tersebut adalah Tarich Aceh dan Nusantara jilid
II dan buku Sastra Aceh Sepanjang Masa.
Sementara ahli epigraf Aceh,
Tengku Taqiyuddin Muhammad, Lc mengatakan tulisan sejarah HM Zainuddin sangat
membantu penelitian yang dikerjakannya. "Beliau (HM Zainuddin) sangat
banyak menginformasikan keberadaan situs-situs bersejarah yang tersebar di
seluruh Aceh, salah satunya keberadaan makam kakek pendiri Aceh Darussalam
Sultan Ali Mughayat Syah yaitu Sultan Munawar Syah di Gampong Hagu Panteraja,"
ujar Taqiyuddin.
Selain itu, tulisan HM Zainuddin
juga mengungkap lokasi makam-makam kuno milik tokoh sejarah Aceh yang berada di
Ulee Kareung Indrapuri. Setelah diteliti, kata Taqiyuddin, ternyata nisan
tersebut merupakan milik Sultan Alauddin Riayat Syah yang mangkat pada 993 H
atau 1585 Masehi.
Taqiyuddin mengatakan tulisan HM
Zainuddin juga turut mengungkap keberadaan makam beberapa ulama besar yang
dimakamkan di Ulee Kareung Indrapuri.
"Banyak situs-situs penting
lainnya yang diinformasikan dalam buku beliau," kata Taqiyuddin.
Arkeolog independen Deddy Satria
juga menilai besarnya peranan HM Zainuddin dalam penulisan sejarah Aceh.
Menurutnya penelitian yang dilakukan HM Zainuddin menggunakan metodelogi banyak
sumber seperti naskah-naskah kuno, lisan, dan dihubungkan dengan peninggalan
arkeologi seperti nisan bersejarah, masjid kuno, kampung kuno, dan
benteng-benteng kuno. Metodelogi ini kemudian diakumulasikan untuk menjelaskan
sebuah permasalahan-permasalah Aceh di masa lampau.
"Usaha HM Zainuddin telah banyak menginventarisir situs-situs
warisan arkeologi bersejarah di Aceh serta mempublikasikannya," kata Deddy
Satria.
1957, Indonesian,
Book, Illustrated edition:Singa
Atjeh : biografi Seri Sulthan Iskander Muda / oleh H.M. Zainuddin.Zainuddin, H. M., 1893-
User activity
Share
to:
Physical
Description
- 196 p. : ill.,
port. ; 23 cm.
Published
- Medan : Pustaka
Iskandar Muda, 1957.
Language
- Indonesian
Title
- Singa
Atjeh : biografi Seri Sulthan Iskander Muda / oleh H.M. Zainuddin.
Author
- Zainuddin, H. M., 1893-
Published
- Medan : Pustaka Iskandar Muda, 1957.hysica ill.,
port. ; 23 cm.
- Iskandar Muda, Sultan of Aceh, 1590-c.1636.
Biografi Tulis Sutan Sati - Sastrawan Angkatan Balai
Pustaka
Tulis Sutan Sati adalah penyair dan sastrawan Indonesia
Angkatan Balai Pustaka. Beliau lahir pada tahun 1898 di Bukittinggi dan
meninggal zaman Jepang pada tahun 1942. Karya-karyanya terdiri atas asli
dan saduran, baik roman maupun syair.Beliau merasakan masa-masa penjajahan Belanda dan Jepang. Jadi ada karya-karyanya tentang penderitaan dan susahnya hidup.
Semasa hidupnya, Tulis Sutan Sati pernah menjadi guru. Kemampuan mengarangnya kian terasah ketika ia menjadi salah satu redaktur di penerbitan, yang pada masa itu milik Belanda. Nama penerbitan tersebut adalah Balai Pustaka.
Tulis Sutan Sati wafat pada tahun 1942, yaitu pada masa penjajahan Jepang
Berikut ini Karya-karyanya Beliau
Karya asli berbentuk Roman
·
Sengsara Membawa Nikmat (1928)
·
Tidak Membalas Guna (1932)
·
Tak Disangka (1932)
·
Memutuskan Pertalian (1932),
Karya saduran dalam bentuk syair:
·
Siti Marhumah Yang Saleh (saduran dari cerita Hasanah yang saleh)
·
Syair Rosina (saduran tentang hal yang sebenarnya terjadi di Betawi pada abad
lampau)
·
Sabai nan Aluih (saduran dari sebuah kaba Minangkabau dalam bentuk prosa beriman).
(1954)
ABDUL MUIS
Nama: Abdul Muis
Gelar: Pahlawan Pergerakan Nasional
Dasar Hukum: Kepres No.218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959
Lahir: Kampung Sungai Puar, dekat Bukittinggi, 3 Juli 1883
Wafat: Bandung, 17 Juni 1959
Makam: Bandung
Abdul Muis lahir di Sungai Puar, dekat Bukittinggi, pada tanggal 3 Juli 1883. Ia pernah belajar di STOVIA (Sekolah Dokter), tetapi tidak tamat. Beberapa lamanya ia bekerja sebagai pegawai negeri, kemudian menerjunkan diri di bidang kewartawanan. Karangannya banyak dimuat dalam harian De Express, berisi kecaman terhadap karangan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia. Karena karangan-karangan itu nama Muis mulai dikenal oleh masyarakat. Kegiatan berpolitik dimulai Muis dalam Sarekat Islam. Ia diangkat sebagai anggota Pengurus Besar.
Pada tahun 1913 Pemerintah Belanda bermaksud mengadakan perayaan untuk memperingati seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Beberapa orang tokoh pergerakan nasional mendirikan Komite Bumiputerayang berusaha menentang rencana tersebut. Abdul Muis ikut di dalamnya. Karena itu, ia ditangkap oleh Pemerintah Belanda.
Dalam Kongres Sarekat Islam (SI) tahun 1916 Muis menganjurkan agar SI bersiap-siap menempuh cara keras apabila cara lunak dalam menghadapi pemerintah jajahan tidak berhasil. Setahun kemudian, ia diutus ke Negeri Belanda sebagai anggota Komite Indie Weerbaar untuk membicarakan masalah pertahanan bagi Indonesia sehubungan dengan terjadinya Perang Dunia I. Selain itu, ia mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda agar di Indonesia didirikan sekolah teknik. Beberapa tahun kemudian di Bandung berdiri Technische Hooge School (sekarang Institut Teknologi Bandung atau ITB).
Dalam SI ia berjuang agar diadakan disiplin partai untuk mengeluarkan anggota-anggota yang sudah dipengaruhi oleh paham komunis. Ia sering berkunjung ke daerah-daerah untuk membela kepentingan rakyat kecil sambil membangkitkan semangat para pemuda agar giat berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air. Pada tahun 1922 Abdul Muis memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta. Karena kegiatan-kegiatan tersebut, Pemerintah Belanda menangkap dan mengasingkannya di Garut, Jawa Barat. Sesudah Indonesia merdeka ia tetap berada di Jawa Barat. Untuk membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan, didirikannya Persatuan Perjuangan Priangan.
Abdul Muis terkenal pula sebagai sastrawan. Sebuah hasil karyanya yang terkenal ialah Salah Asuhan. Ia meninggal dunia di Bandung pada tanggal 17 Juni 1959 dan dimakamkan di sana.
Gelar: Pahlawan Pergerakan Nasional
Dasar Hukum: Kepres No.218 Tahun 1959, tanggal 30 Agustus 1959
Lahir: Kampung Sungai Puar, dekat Bukittinggi, 3 Juli 1883
Wafat: Bandung, 17 Juni 1959
Makam: Bandung
Abdul Muis lahir di Sungai Puar, dekat Bukittinggi, pada tanggal 3 Juli 1883. Ia pernah belajar di STOVIA (Sekolah Dokter), tetapi tidak tamat. Beberapa lamanya ia bekerja sebagai pegawai negeri, kemudian menerjunkan diri di bidang kewartawanan. Karangannya banyak dimuat dalam harian De Express, berisi kecaman terhadap karangan orang-orang Belanda yang sangat menghina bangsa Indonesia. Karena karangan-karangan itu nama Muis mulai dikenal oleh masyarakat. Kegiatan berpolitik dimulai Muis dalam Sarekat Islam. Ia diangkat sebagai anggota Pengurus Besar.
Pada tahun 1913 Pemerintah Belanda bermaksud mengadakan perayaan untuk memperingati seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Beberapa orang tokoh pergerakan nasional mendirikan Komite Bumiputerayang berusaha menentang rencana tersebut. Abdul Muis ikut di dalamnya. Karena itu, ia ditangkap oleh Pemerintah Belanda.
Dalam Kongres Sarekat Islam (SI) tahun 1916 Muis menganjurkan agar SI bersiap-siap menempuh cara keras apabila cara lunak dalam menghadapi pemerintah jajahan tidak berhasil. Setahun kemudian, ia diutus ke Negeri Belanda sebagai anggota Komite Indie Weerbaar untuk membicarakan masalah pertahanan bagi Indonesia sehubungan dengan terjadinya Perang Dunia I. Selain itu, ia mempengaruhi tokoh-tokoh Belanda agar di Indonesia didirikan sekolah teknik. Beberapa tahun kemudian di Bandung berdiri Technische Hooge School (sekarang Institut Teknologi Bandung atau ITB).
Dalam SI ia berjuang agar diadakan disiplin partai untuk mengeluarkan anggota-anggota yang sudah dipengaruhi oleh paham komunis. Ia sering berkunjung ke daerah-daerah untuk membela kepentingan rakyat kecil sambil membangkitkan semangat para pemuda agar giat berjuang untuk kemerdekaan bangsa dan tanah air. Pada tahun 1922 Abdul Muis memimpin pemogokan kaum buruh di daerah Yogyakarta. Karena kegiatan-kegiatan tersebut, Pemerintah Belanda menangkap dan mengasingkannya di Garut, Jawa Barat. Sesudah Indonesia merdeka ia tetap berada di Jawa Barat. Untuk membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan, didirikannya Persatuan Perjuangan Priangan.
Abdul Muis terkenal pula sebagai sastrawan. Sebuah hasil karyanya yang terkenal ialah Salah Asuhan. Ia meninggal dunia di Bandung pada tanggal 17 Juni 1959 dan dimakamkan di sana.
Kirana Kejora
Dari Wikipedia bahasa Indonesia,
ensiklopedia bebas
|
Kirana Kejora
|
|
|
Kirana Kejora, usai launching novelnya,
Ayah Menyayangi Tanpa Akhir (2013).
|
|
|
Lahir
|
|
|
Pekerjaan
|
|
Kirana Kejora (lahir di Ngawi, Jawa Timur, 2 Februari 1972; umur 45
tahun) adalah penulis Indonesia yang terpilih sebagai salah satu Tokoh
Inspiratif Sidoarjo 2013. Karya-karyanya berupa artikel, cerpen, dan puisi
dimuat di berbagai media cetak. Ia juga produktif menulis novel dan script
film, baik layar lebar maupun film televisi. Sebelum memutuskan sebagai penulis
penuh waktu, Kirana adalah peneliti Sosial Ekonomi Perikanan Unibraw
(1991-1993), Staff pengajar pada SMK Dipasena Citra Darmaja, Lampung (1996-2000),
Staf Ahli Sosial Ekonomi proyek Management Monitoring Cosultant JBIC-DPK di
Sulawesi Tenggara (2000-2001) Staff pengajar pada Universitas Hang Tuah Surabay
(2003-2004), dan wartawati tabloid Infotainment Fenomena (2003-2004).[1][2][3][4][5][6][7][8][9] [10] [11]
Aktivitas
Kesenian[sunting | sunting sumber]
·
Produktif
menulis artikel, cerpen, puisi, di Kartini, tabloid Fenomena, tabloid Metropop,
tabloid Woman, Harian Supremasi Hukum, Delta Pos, Radar Surabaya, Surabaya
Pagi, Jawa Pos, Surya, majalah Venus, Matra. Oops, Peduli (Hongkong), dan
Journal The Saundor (2003-2009).[12][13][14][15]
·
Mementaskan
karya -puisi, cerpen, novelnya- di berbagai kota di Indonesia
·
Kolaborasi
dengan gitaris Ade Virguna dengan mini album 8 lagu rock blues dari 8 puisi
dari buku Selingkuh (2007)
·
Workshop
feat Boenga Batu : Menulis, Melukis, Membatik, Out Bond Anak-Anak korban
Lumpur Lapindo & Anak Jalanan di Batu (2009)
·
Workshop
feat Melita Ohram (pelukis dari Australia): Melukis Diorama untuk Anak-Anak
korban Lumpur Lapindo di Sidoarjo (2009)
·
Menggarap
Video Klip Nena Soetedja (mini album sebagai penulis script & sutradara,
2009)
·
Wakil Indonesia
sebagai Pemakalah dan Pembaca Puisi untuk Seminar Wajah Kepengarangan Muslimah
Nusantara 2009 di Kuala Lumpur, Malaysia.
·
Pemuisi di
Kebangkitan Sastra Etnik di Balai Pemuda Surabaya by KSMB (2010)
·
Pemateri,
pembicara pada Lokakarya Manajemen Produksi Film Duta Wisata Se-Jatim (2010)
·
Pemateri,
pembicara pada Workshop Pembuatan Film Indepedent dan Proses Kreatif Novel di
Taman Budaya Medan by TAN & KSI Medan (2010)
·
Pemateri,
pembicara pada Apresiasi Sastra Pelajar SLTA se-Surabaya di LPPM Univ. Airlangga
Surabaya (2010)
·
Pemateri,
pembicara pada diskusi Sastra & Perempuan (Perempuan Bikin Rumah) di Gedung
Kesenian Solo (2010)
·
Pemateri,
pembicara pada seminar Dying With Book di Univ. Pakuan Bogor (2010)
·
Pemateri,
pembicara pada diskusi Sastra Independent di Taman Budaya Medan by KSI
Medan(2010)
·
Pemateri,
pembicara pada diskusi Menulis Independent di FIA Univ. Brawijaya Malang (2010)
·
Pemateri,
pembicara pada seminar Menulis & Menerbitkan Buku Independent di STAN
Jakarta (2011)
·
Pemateri,
pembicara pada seminar Kiat Menulis Sastra Kreatif di Univ. Gunadarma Depok
(2011)
·
Pemateri,
pembicara pada seminar Menulis & Menerbitkan Buku Independent di Univ.
Islam Malang (2011)
·
Pemateri,
pembicara pada seminar Generasi Sukses Generasai Gemar Membaca (Sosialisasi
Perpustakaan Bersama Sastrawan) di Grand Cempaka Jakarta (2011)
·
Pemateri,
pembicara pada Akademik Berbagi IKIP PGRI Madiun (2011)
·
Pemateri,
pembicara pada Workshop Membaca Cerdas & Menulis Independent di
Perpustakaan Kota Surabaya (2011)
·
Pemateri,
pembicara pada Menulis Kreatif di FIB Univ. Brawijaya Malang (2011)
·
Pemateri,
pembicara pada Menulis & Menerbitkan Buku Independent di Kedai Sinau Malang
(2011)
·
Pemateri,
pembicara pada Workshop Menulis Independent di Univ. Muhammadiyah Sidoarjo
(2011)
·
Pemateri, pembicara
pada Workshop Membaca Cerdas & Menulis Independent di Perpustakaan Sidoarjo
(2011)
·
Pemateri,
pembicara pada Workshop Menulis Independent di Kedai Kopi Palu (2011)
·
Pemateri,
pembicara pada Workshop Menulis Independent di Tanjung Karang Donggala (2011)
·
Pemateri,
pembicara pada Workshop Menulis Independent program KEY GOES TO SCHOOL di
Sidoarjo (2012)
·
Pemateri,
pembicara pada Workshop Menulis BEM Fak. Farmasi Dalam Rangka Dies Natalis
Univ. Airlangga (2012)
Bibliografi[sunting | sunting sumber]
·
Antologi
Tunggal Cerpen & Puisi Perempuan dan Daun (2007)
·
Kepak
Elang Merangkai Eidelweis (novel, 2006)
·
Elang,
(novel, 2009)
·
Bintang
anak TUHAN (novel, 2010)
·
Querido
(novel, 2011)
·
Pencarian
Cinta Terakhir (novel, 2013)
·
Kenang
Langit (novel, 2014)
·
Kidung
Cinta Sejati (novel, 2014)
·
Surga
Kecil di Atas Awan (novel, 2015)
·
Rindu
Terpisah di Raja Ampat (novel, 2015)
·
Senja di
Langit Praha (novel, 2015)
Skenario
Film[
·
Astro TV:
Kabut Hati, Selma, Lilin Kecil, Selamat Jalan Kekasih, Malam Pertama, Anak
Jalanan, Kidung, Kala Cinta Menggoda, Cinta, Surya, Menunggumu, Marlina,
Merpati Putih, Call Us Jayus, Cinta Kembar, Musik Noni, Kidung Cinta Sejati,
Kembalikan Cintaku, Beri Aku Waktu, Warnet Cinta, Cintaku Saat Maghrib Tiba,
Ketika Ku Bersujud, Ustadzku Sayang, Saat Tuhan Memberi Dia Cinta, Kemana Ku
Akan Pergi, Kalau Jodoh Tak Lari Kemana, Pagi Sayang, Sahabatku Sayangku (2008)
·
Ketika
Cinta Memilih, Hidup Itu Biutipul, Munajat Cinta Sang Gibran, Hasduk Berpola
(layar lebar, 2009)
·
Munajat
Cinta Sang Gibran (2009)
·
Mencium
Kaki Langit (film drama dokumenter Kementerian Daerah Tertinggal, 2014)
·
Dhenok
(2015)
Penghargaan[sunting | sunting sumber]
·
Hasduk Berpola
terpilih sebagai Film Inspiratif Kemendikbud 2013
·
Hasduk
Berpola menjadi Film Favorit di Apresiasi Film Indonesia 2013
·
Hasduk
Berpola masuk sebagai Program Educational Screening IFF Merlbourne 2015
·
Air Mata
Terakhir Bunda meraih Best Feature Film di Balinale International Film Festival
2013
Referensi
5. Judul : SITI NURBAYA
Penulis : Marah
Rusli
Penerbit : 20- an
(Balai Pustaka)
Tahun :1920
Novel
ini boleh jadi merupakan salah satu karya terbesar anak bangsa bahkan sampai
saat ini. Harus diakui bahwa Marah Rusli telah menyusupkan karyanya bahkan ke
dalam sistem budaya bangsa Indonesia. Anda tentu mengerti jika orang-orang
berkata “Jangan seperti Sitti Nurbaya” atau “Aku bukan Sitti Nurbaya”. Tokoh
Sitti Nurbaya juga kisahnya memang melekat erat dalam benak masyarakat
Indonesia. Ia seolah menjadi simbol abadi kasih yang terpaksa, kasih yang tak
sampai, kasih yang penuh pertentangan keluarga. Pernah membaca novel apik ini?
Patut
disayangkan jika Anda belum pernah melahap abjad demi abjad dalam buku ini.
Kisahnya klasik memang, tentang cinta remaja tokoh Sitti Nurbaya dengan seorang
pemuda minang bernama Samsulbahri. Sitti Nurbaya sendiri merupakan anak dari
seorang bangsawan Baginda Sulaiman sementara itu Samsulbahri adalah anak
pembesar bernama Sutan Mahmud Syah. Mereka saling mencintai diam-diam.
Pengakuan baru muncul saat Samsulbahri hendak pergi ke Batavia untuk menuntut
ilmu. Mereka menghabiskan waktu lama berdua di perbukitan dan saat hendak
berpisah Samsulbahri mencium Sitti Nurbaya di depan rumahnya. Hal ini
tertangkap oleh ayah Sitti Nurbaya yang seketika berang. Demikian pula dengan
masyarakat sekitar. Samsulbahri kemudian dikejar dan keluar dari Padang menuju
Batavia.
Tokoh
lainnya bernama Datuk Maringgih. Ia seorang yang terpandang di desanya. Bahkan
merupakan saingan ayah Siti Nurbaya, Baginda Sulaiman. Datuk Maringgih menyimpan
rasa dengki atas keberhasilan bisnis Ayah Sitti Nurbaya. Ia kemudian berbuat
hal jahat menjatuhkan usaha Baginda Sulaiman dan membuatnya bangkrut tak
berdaya. Tak berhenti sampai di situ, Datuk Maringgih juga membuat ayah Sitti
Nurbaya berutang banyak padanya. Saat Datuk Maringgih datang memaksa keluarga
Sitti Nurbaya membayar utang, ia kemudian menawarkan diri untuk menikah dengan
sang Datuk asalkan semua utang ayahnya dianggap lunas tanpa sisa. Dengan
beberapa pertimbangan, akhirnya Datuk Maringgih menerima penawaran tersebut.
Sitti
Nurbaya dan Datuk Maringgih akhirnya menikah jua, namun karena perlakuan sang
suami yang dianggap kasar, akhirnya Sitti Nurbaya lari ke Batavia dan bertemu
dengan Samsulbahri di sana. Mereka kembali jatuh cinta sampai suatu saat Siti
Nurbaya menerima surat dari desa yang menyatakan bahwa ayahnya telah meninggal.
Ia akhirnya kembali ke Padang dan meninggal di sana akibat keracunan kue yang
diberikan oleh Datuk Maringgih. Samsulbahri sangat terpukul dan mencoba bunuh
diri tetapi tak bisa. Pada akhirnya, di suatu kesempatan, ia berhasil
membalaskan dendamnya.
Menurut
bebrapa pengamat sastra, novel ini tidak menggunakan gaya penuturan Marah Rusli
yang sebenarnya sebab pada jaman tersebut semua penulis yang bukunya hendak diterbitkan
oleh Balai Pustaka harus mematuhi “gaya” yang telah mereka tetapkan. Meski
demikian, pemilihan kata Marah Rusli dalam novel ini sangat memikat meski ia
terkesan memilih bahasa yang aman. Dalam novel ini, ia juga banyak menggunakan
pantun untuk menyampaikan persaan, salah satunya adalah:
“Padang Panjang dilingkari
bukit,
bukit dilingkari kayu jati,
Kasih sayang bukan sedikit
dari mulut sampai ke hati”






Comments
Post a Comment