Menikmati Sepotong Kalimantan
Gehu dan Pancake
Setidaknya di bulan Oktober ini, saya mencoba dua resep masakan.
Yang pertama, gehu atau singkatan dari tahu isi toge, jenis penganan
asli Indonesia. Banyak yang jual gehu, mulai dari tukang gorengan,
warung makan sampai restoran terkenal dan biasa-biasa saja.
Dan yang kedua, adalah pancake, yang saya ingat ini makanan orang bule. Atau di orang Batak disebutnya kue panukkup. Hehe.. Ada satu restoran “Pancake Parlour” dari Australia, di Teras Kota, BSD, Serpong. Harganya lumayan lah.. mahal. Apalagi kalau dibandingkan dengan membuatnya sendiri, tentu saja lebih irit.
Toh kedua resep itu cukuplah sederhana untuk dipraktekkan. Untuk membuat gehu, kita perlu modal bahan-bahan antara lain:
- Tahu sayur yang berukuran kotak warna coklat mirip tahu sumedang. Kalau di pasar kebayoran, 10 biji, Rp 2500
- Toge
- Wortel, diiris-diiris tipis
- Caisim putih (kalau suka saja, buat variasi)
- Bawang putih
- Cabe merah 1 biji (kalau tidak suka pedas, boleh diabaikan)
- Bawang daun dan seledri iris tipis-tipis.
- Merica dan garam secukupnya
- Tepung terigu secukupnya dan tepung beras (1 sendok makan)
- Minyak goreng
Cara membuatnya: Goreng terlebih dahulu bawang putih, cabe merah. Kemudian masukkan toge, wortel, dan caisim yang sudah diris-iris tipis. Terakhir masukkan bawang daun dan seledri. Kasih garam. Angkat kemudian dinginkan. Lalu siapkan adonan tepung terigu dan tepung beras, diberi air, kasih garam dan merica. Belah tahu coklat, dan masukkan toge yang sudah dimasak ke dalam “perut” tahu, lalu “benamkan” ke dalam olahan tepung. Terakhir, gorenglah tahu, setelah warna tepung kuning kecoklatan, angkat dan tiriskan. Sajikan dengan tambahan cabe rawit (cengek, lamun ceuk urang Sunda mah hehe..)
Nah bila ingin mencoba membuat pancake (9 potong), siapkan terlebih dahulu bahan-bahannya sebagai berikut:
- 200 gram tepung
- 200 mililiter susu cair
- 1,5 sendok makan mentega dicairkan
- Gula dan keju cheddar secukupnya
- Baking powder
Cara mengolah: tepung dan gula dikocok, masukkan susu cair, dan terakhir mentega yang sudah dicairkan.
Cara masak: Siapkan wajan mini diameter 10 sentimeter, nyalakan api kompor kecil. Lalu masukkan satu takaran adonan (satu sendok sayur bahan olahan). Setelah pinggirnya coklat, taburkan keju, bisa juga ditambah dengan wortel parut atau keju diganti dengan meses coklat. Bila warna permukaan sudah kuning kecoklatan, angkat pancake dan siap disajikan. Berikan buah stroberi atau anggur sebagai pendamping pancake, rasanya akan lebih segar di lidah.
Selamat mencoba dan jangan lupa bagi-bagi ya
Dan yang kedua, adalah pancake, yang saya ingat ini makanan orang bule. Atau di orang Batak disebutnya kue panukkup. Hehe.. Ada satu restoran “Pancake Parlour” dari Australia, di Teras Kota, BSD, Serpong. Harganya lumayan lah.. mahal. Apalagi kalau dibandingkan dengan membuatnya sendiri, tentu saja lebih irit.
Toh kedua resep itu cukuplah sederhana untuk dipraktekkan. Untuk membuat gehu, kita perlu modal bahan-bahan antara lain:
- Tahu sayur yang berukuran kotak warna coklat mirip tahu sumedang. Kalau di pasar kebayoran, 10 biji, Rp 2500
- Toge
- Wortel, diiris-diiris tipis
- Caisim putih (kalau suka saja, buat variasi)
- Bawang putih
- Cabe merah 1 biji (kalau tidak suka pedas, boleh diabaikan)
- Bawang daun dan seledri iris tipis-tipis.
- Merica dan garam secukupnya
- Tepung terigu secukupnya dan tepung beras (1 sendok makan)
- Minyak goreng
Cara membuatnya: Goreng terlebih dahulu bawang putih, cabe merah. Kemudian masukkan toge, wortel, dan caisim yang sudah diris-iris tipis. Terakhir masukkan bawang daun dan seledri. Kasih garam. Angkat kemudian dinginkan. Lalu siapkan adonan tepung terigu dan tepung beras, diberi air, kasih garam dan merica. Belah tahu coklat, dan masukkan toge yang sudah dimasak ke dalam “perut” tahu, lalu “benamkan” ke dalam olahan tepung. Terakhir, gorenglah tahu, setelah warna tepung kuning kecoklatan, angkat dan tiriskan. Sajikan dengan tambahan cabe rawit (cengek, lamun ceuk urang Sunda mah hehe..)
Nah bila ingin mencoba membuat pancake (9 potong), siapkan terlebih dahulu bahan-bahannya sebagai berikut:
- 200 gram tepung
- 200 mililiter susu cair
- 1,5 sendok makan mentega dicairkan
- Gula dan keju cheddar secukupnya
- Baking powder
Cara mengolah: tepung dan gula dikocok, masukkan susu cair, dan terakhir mentega yang sudah dicairkan.
Cara masak: Siapkan wajan mini diameter 10 sentimeter, nyalakan api kompor kecil. Lalu masukkan satu takaran adonan (satu sendok sayur bahan olahan). Setelah pinggirnya coklat, taburkan keju, bisa juga ditambah dengan wortel parut atau keju diganti dengan meses coklat. Bila warna permukaan sudah kuning kecoklatan, angkat pancake dan siap disajikan. Berikan buah stroberi atau anggur sebagai pendamping pancake, rasanya akan lebih segar di lidah.
Selamat mencoba dan jangan lupa bagi-bagi ya
TUHAN TIDAK PERNAH TERBURU-BURU
Tuhan, aku tahu Engkau tidak pernah terburu-buru
RencanaMu untukku terjadi pada waktunya
Engkau tidak membutuhkan tanda pengingat pada jadwalMu
Karena aku selalu ada dalam pikiranMu
Aku tahu Engkau telah menggambar mozaik hidupku
Dan Engkau sedang meletakkan setiap kepingan pada tempatnya
Selagi aku terus mengikuti rencanaMu
Itulah yang kucari dan kurindukan
Selagi kepingan pola hidupku terus tersusun
Dan bagian selanjutnya mulai dibentangkan
Engkaulah yang kupuji dan kupercaya
TanganMulah yang kupegang dan kugenggam erat.
(by: Elaine Wright Calvin)
Bible says:
Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11)
He has made everything beautiful in its time (Ecclesiates 3:11)
RencanaMu untukku terjadi pada waktunya
Engkau tidak membutuhkan tanda pengingat pada jadwalMu
Karena aku selalu ada dalam pikiranMu
Aku tahu Engkau telah menggambar mozaik hidupku
Dan Engkau sedang meletakkan setiap kepingan pada tempatnya
Selagi aku terus mengikuti rencanaMu
Tolonglah aku untuk tidak tergesa-gesa dan berlomba
Menunggu seringkali sangat menyulitkan
Dan belajar bersabar tidaklah mudah bagiku
Namun memiliki hidup yang semakin seperti KristusItulah yang kucari dan kurindukan
Selagi kepingan pola hidupku terus tersusun
Dan bagian selanjutnya mulai dibentangkan
Engkaulah yang kupuji dan kupercaya
TanganMulah yang kupegang dan kugenggam erat.
(by: Elaine Wright Calvin)
Bible says:
Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11)
He has made everything beautiful in its time (Ecclesiates 3:11)
K POP PHENOMENON AND THE EMERGENCE OF BOY/GIRL BAND
The Korean wave or Hallyu is spreading quickly in Indonesia today.
This phenomenon attracted young generation, especially those who likes
Korean artists. From Korean dramas, Korean film, Korean Pop, fashion,
lifestyle and food. Even boyband and girlband emergence in local music
industries imitating the Korean Pop.
In this paper, we discussed about how media playing a role to the emergence of one culture. Through television and internet as a product of technology. The research used social learning theory and message reception theory. It explains about human attitudes: social interaction, cognitive, attitude, and environment.
Using qualitative approach, data was collected through interview with 2 members of boybands (S9B and Raise), and 1 girlband (Princess); and documents. As a result, we found some new boybands and girlbands imitating Korean Pop Culture. They have inspiration from You Tube, TV Cable, DVD and CD. They believe Korean phenomenon has attracted young fans in Indonesia and music industries.
Dalam penelitian ini, kami membahas tentang bagaimana media memainkan peran dalam kemunculan suatu budaya, melalui televisi dan internet sebagai produk teknologi. Penelitian ini menggunakan teori belajar sosial. Teori ini menjelaskan tentang sikap manusia: interaksi sosial, kognitif, sikap, dan lingkungan. Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan teori penerimaan pesan.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan 2 anggota boybands (S9B dan Raise), dan 1 girlband (Princess), serta dokumen-dokumen terkait. Berdasarkan hasil penelitian beberapa boybands dan girlbands baru meniru Budaya Pop Korea. Mereka memiliki inspirasi dari You Tube, Cable TV, DVD dan CD. Mereka percaya fenomena Korea telah menarik penggemar muda di Indonesia dan industri musik.
(Gracia Rachmi Adiarsi, Yolanda Stellarosa, Martha Warta Silaban)
PS: paper presented at 3rd International Communication Conference LSPR-Jakarta, 2012
In this paper, we discussed about how media playing a role to the emergence of one culture. Through television and internet as a product of technology. The research used social learning theory and message reception theory. It explains about human attitudes: social interaction, cognitive, attitude, and environment.
Using qualitative approach, data was collected through interview with 2 members of boybands (S9B and Raise), and 1 girlband (Princess); and documents. As a result, we found some new boybands and girlbands imitating Korean Pop Culture. They have inspiration from You Tube, TV Cable, DVD and CD. They believe Korean phenomenon has attracted young fans in Indonesia and music industries.
FENOMENA KOREAN POP DAN KEMUNCULAN BOY/GIRL BAND
Gelombang Korea atau Hallyu menyebar cepat di Indonesia saat ini.
Fenomena ini menarik generasi muda, terutama mereka yang suka artis
Korea. Dari drama Korea, film, Korean pop, fashion, gaya hidup dan
makanan. Bahkan kemunculan boy band dan girl band di industri musik
lokal meniru Korean pop.Dalam penelitian ini, kami membahas tentang bagaimana media memainkan peran dalam kemunculan suatu budaya, melalui televisi dan internet sebagai produk teknologi. Penelitian ini menggunakan teori belajar sosial. Teori ini menjelaskan tentang sikap manusia: interaksi sosial, kognitif, sikap, dan lingkungan. Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan teori penerimaan pesan.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan 2 anggota boybands (S9B dan Raise), dan 1 girlband (Princess), serta dokumen-dokumen terkait. Berdasarkan hasil penelitian beberapa boybands dan girlbands baru meniru Budaya Pop Korea. Mereka memiliki inspirasi dari You Tube, Cable TV, DVD dan CD. Mereka percaya fenomena Korea telah menarik penggemar muda di Indonesia dan industri musik.
(Gracia Rachmi Adiarsi, Yolanda Stellarosa, Martha Warta Silaban)
PS: paper presented at 3rd International Communication Conference LSPR-Jakarta, 2012
LSPR as Examining Body for Journalist Competency Test
STIKOM The London School of Public Relations Jakarta, the best
graduate school of communication in Indonesia in collaboration with
Indonesia journalist union (Persatuan Wartawan Indonesia) conducted
Journalist Competency Test last Friday, 1 June 2012. As many as 15 lecturers in LSPR joined the three-stages test to be the Number One Press,
who then will examine those (alumni and public) who wish to be a
journalist. Lecturers who have joined the workshop and test were:
1. Arswendo Atmowiloto*
2. Dr. Artini Suparmo*
3. Dr. Felix Jebarus, M.Si
4. A. Edhy Aruman, M.Si
5. Zarman Syah, Ph.D (Ad)
6. Drs. Rendro Dhani, M.Si
7. Dana Sumirat
8. Joe H. Setiawan, M.Si
9. Drs. Teguh Poeradisastra, MM
10. Nico Wattimena, MA, Ph.D, MCIPR
11. Aprida Sihombing, M.Si
12. Drs. B. Sri Tunggul Pannindriya, MA
13. Martha W. Silaban, M.Si
14. Hersinta, M.Si
15. Teguh Santosa, MA
Mr. Arswendo Atomowiloto and Dr. Artini Suparmo have been the “number one press” before. The three stages test were Editorial Workshop, Journalist Competency test and TOT. Last 29-30 May 2012, the editorial workshop was held at LSPR PGP Activity Room, with various topics like Editorial Rubric Policy and Social Lobby (by Mr. Hendri Ch.Bangun), Investigative Reporting and Policies of Media (by Mr.Marah Sakti), Editorial Policies and Writing (by Mr. HM. Noeh Hatumena) and Journalist Competencies Test Methodology (by Ms. Maria Dian Andriana).
The next stage was the Journalist Competence Test conducted at LSPR Campus C last 1 June 2012 from 08.30-17.00 with Mr.Marah Sakti Siregar, Mr.Banjar Chaeruddin and Mr.Widodo Asmowiyoto as the examiners while Mr.HM Noeh Hatumena, Mr.Encub Soebekti and Mr.Atal S.Depari acted as observer.
Congratulations Lecturers!
(taken from 172nd LSPR News Online)
1. Arswendo Atmowiloto*
2. Dr. Artini Suparmo*
3. Dr. Felix Jebarus, M.Si
4. A. Edhy Aruman, M.Si
5. Zarman Syah, Ph.D (Ad)
6. Drs. Rendro Dhani, M.Si
7. Dana Sumirat
8. Joe H. Setiawan, M.Si
9. Drs. Teguh Poeradisastra, MM
10. Nico Wattimena, MA, Ph.D, MCIPR
11. Aprida Sihombing, M.Si
12. Drs. B. Sri Tunggul Pannindriya, MA
13. Martha W. Silaban, M.Si
14. Hersinta, M.Si
15. Teguh Santosa, MA
Mr. Arswendo Atomowiloto and Dr. Artini Suparmo have been the “number one press” before. The three stages test were Editorial Workshop, Journalist Competency test and TOT. Last 29-30 May 2012, the editorial workshop was held at LSPR PGP Activity Room, with various topics like Editorial Rubric Policy and Social Lobby (by Mr. Hendri Ch.Bangun), Investigative Reporting and Policies of Media (by Mr.Marah Sakti), Editorial Policies and Writing (by Mr. HM. Noeh Hatumena) and Journalist Competencies Test Methodology (by Ms. Maria Dian Andriana).
The next stage was the Journalist Competence Test conducted at LSPR Campus C last 1 June 2012 from 08.30-17.00 with Mr.Marah Sakti Siregar, Mr.Banjar Chaeruddin and Mr.Widodo Asmowiyoto as the examiners while Mr.HM Noeh Hatumena, Mr.Encub Soebekti and Mr.Atal S.Depari acted as observer.
Congratulations Lecturers!
(taken from 172nd LSPR News Online)
Kornel Sihombing, Penumpang Sukhoi, Si Pemersatu Keluarga
Sosok Kornel Mandagi Sihombing, 48, korban tragedi Sukhoi, dikenal
sebagai pemersatu keluarga. “Dia selalu menyatukan kami semua,” kata
Erni, 42 tahun, kakak ipar Kornel yang ditemui di Pangkalan Udara Halim
Perdanakusuma, kemarin.
Erni mengenang Onyek—sapaannya- sebagai orang yang penuh kepedulian. “Kalau Natal, dia selalu berinisiatif mengumpulkan keluarganya,” kata dia yang datang dari Pontianak. Bahkan tak segan membiayai tiket saudara-saudaranya yang tinggal berjauhan di Papua dan Pontianak.
Onyek anak keempat dari enam bersaudara. Ia merupakan Kepala Divisi Integrasi Bisnis PT. Dirgantara Indonesia (DI), yang diundang joy flight Sukhoi Superjet 100, pada Rabu 9 Mei 2012 lalu. Alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung 1983 dan melanjutkan studi Material di Universitas Teknik Delft, Belanda, pada 1997.
Direktur Aircraft Integration PT DI, Budiman Saleh, yang satu angkatan dengan Onyek mengenalnya sebagai orang yang open minded. Hobinya tenis, main basket dan sepak bola. Dia salah satu pelobi untuk kerjasama dengan perusahaan asing. Sobatnya, Sahat Sitorus mengatakan dia aktif kegiatan lintas agama.
Di mata Chandra Sihombing, 50 tahun, adiknya itu periang dan mudah akrab. Menurut dia, Onyek sangat mencintai dunia penerbangan. “Dia tetap di perusahaan (PT DI) meskipun temannya banyak yang keluar,” kata dia. Sebelum terbang, Onyek pernah menelepon dan minta diajarkan main golf.
Kornel meninggalkan seorang istri, Indriyati Ayub, 48 tahun dan dua anak, Corin, 11, dan Luhut, 8. Onyek adalah penatua di GKI Maulana Yusuf (MY), Bandung dan terlibat pelayanan MY Leadership. Kerabat dan rekan korban berdatangan silih berganti ke rumah duka di Jalan Gempol 117, Bandung.
MARTHA WARTA SILABAN|SUBKHAN| ERICK PRIBERKAH
dimuat di Koran Tempo dan Tempo.co
—–
Saya mengenal Bang Onyek, ketika mengikuti Persekutuan Pemuda di GKI MY sekitar tahun 2000. Tidak ingat pasti, kapan waktunya tapi kala itu teman-teman di Pemuda senang berdiskusi dengan dia. Dia dan istrinya pernah juga memberikan kesaksian di PP Pemuda. ( profil Bang Onyek )
Bapak saya mengatakan, dia bermarga Silaban, tapi karena jaman dulu
banyak Silaban pakai marga Sihombing. Adapun Toga Sihombing terdiri dari
Silaban, Nababan, Lumbantoruan, dan Hutasoit.
Orang tua saya katakan, keluarga Bang Onyek adalah orang baik, pintar dan ramah pada kerabat. Bapaknya pernah menjadi Komandan Brimob di Bandung pada 1970-an. Dan kalau berkunjung ke rumahnya pasti disuruh makan.
Selamat jalan Ito, semoga jejak kakimu tetap dikenang di GKI MY, keluarga, dan setiap orang yang mengenalmu…
Erni mengenang Onyek—sapaannya- sebagai orang yang penuh kepedulian. “Kalau Natal, dia selalu berinisiatif mengumpulkan keluarganya,” kata dia yang datang dari Pontianak. Bahkan tak segan membiayai tiket saudara-saudaranya yang tinggal berjauhan di Papua dan Pontianak.
Onyek anak keempat dari enam bersaudara. Ia merupakan Kepala Divisi Integrasi Bisnis PT. Dirgantara Indonesia (DI), yang diundang joy flight Sukhoi Superjet 100, pada Rabu 9 Mei 2012 lalu. Alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung 1983 dan melanjutkan studi Material di Universitas Teknik Delft, Belanda, pada 1997.
Direktur Aircraft Integration PT DI, Budiman Saleh, yang satu angkatan dengan Onyek mengenalnya sebagai orang yang open minded. Hobinya tenis, main basket dan sepak bola. Dia salah satu pelobi untuk kerjasama dengan perusahaan asing. Sobatnya, Sahat Sitorus mengatakan dia aktif kegiatan lintas agama.
Di mata Chandra Sihombing, 50 tahun, adiknya itu periang dan mudah akrab. Menurut dia, Onyek sangat mencintai dunia penerbangan. “Dia tetap di perusahaan (PT DI) meskipun temannya banyak yang keluar,” kata dia. Sebelum terbang, Onyek pernah menelepon dan minta diajarkan main golf.
Kornel meninggalkan seorang istri, Indriyati Ayub, 48 tahun dan dua anak, Corin, 11, dan Luhut, 8. Onyek adalah penatua di GKI Maulana Yusuf (MY), Bandung dan terlibat pelayanan MY Leadership. Kerabat dan rekan korban berdatangan silih berganti ke rumah duka di Jalan Gempol 117, Bandung.
MARTHA WARTA SILABAN|SUBKHAN| ERICK PRIBERKAH
dimuat di Koran Tempo dan Tempo.co
—–
Saya mengenal Bang Onyek, ketika mengikuti Persekutuan Pemuda di GKI MY sekitar tahun 2000. Tidak ingat pasti, kapan waktunya tapi kala itu teman-teman di Pemuda senang berdiskusi dengan dia. Dia dan istrinya pernah juga memberikan kesaksian di PP Pemuda. ( profil Bang Onyek )
Kornel bersama Indriyati, serta dua anaknya Corin dan Luhut (property of http://www.fokal.info)
Orang tua saya katakan, keluarga Bang Onyek adalah orang baik, pintar dan ramah pada kerabat. Bapaknya pernah menjadi Komandan Brimob di Bandung pada 1970-an. Dan kalau berkunjung ke rumahnya pasti disuruh makan.
Selamat jalan Ito, semoga jejak kakimu tetap dikenang di GKI MY, keluarga, dan setiap orang yang mengenalmu…
Gerabah Cantik dan Murah dari Kasongan
YOGYAKARTA-Bila Anda berkunjung ke Yogyakarta, mampirlah ke Kasongan
di Kabupaten Bantul. Di tempat ini, berbagai perkakas terbuat dari tanah
liat atau gerabah tersedia dalam aneka rupa. Kendi, vas bunga, patung,
perabotan rumah tangga dan souvenir.
Gerabah yang disajikan pada setiap toko memiliki keunikan dan harga yang berbeda-beda. Selain gerabah, berbagai perkakas yang terbuat dari kayu dan bambu pun disuguhkan. Antara lain mainan tradisional anak, alat musik tradisional, hiasan rumah, dan sendok penggorengan.
Salah satu toko milik Rahmat Soleh, 30 tahun, menawarkan produk oleh-oleh atau souvenir. Seperti wadah tisu, tempat lilin, asbak, tempat pensil yang berukuran mug, tempat pensil berbentuk sapi, vas bunga, asesoris rambut, dan patung si Mbah.
Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 1000 sampai Rp 65.000. Harga tertinggi itu, kata dia, untuk patung si Mbah. Yakni patung berupa pasangan Mbah Kakung dan Mbah Putri yang dilengkapi dengan kain batik. “Itu bahannya kan lebih tebal,” kata Soleh, Kamis 5 April 2012. Pengalaman Tempo, harga barang di Kasongan dapat ditawar.
Pemilik toko Nurya Craft Yogya itu mengatakan sedikitnya ada 20 model gerabah yang dibuat setiap minggunya (untuk finishing). Setiap model terdiri dari 100 buah. “Toko saya pernah disurvei oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada mempunyai stok terbesar,” kata dia yang pernah mengekspor ke Perancis.
Ia mengatakan tren gerabah saat ini adalah kendi atau guci dan vas bunga yang diberi tempelan pasir. Paling tidak itu tren dalam satu tahun terakhir. Dua tahun sebelumnya, gerabah diberi variasi dengan pecahan kaca sehingga terlihat cantik. Beberapa toko masih terlihat menyediakan model ini.
Namun, kata dia, gerabah dengan tempelan pasir hanya laku di pasaran lokal. “Tidak tembus ekspor, karena di ruangan ber-AC akan lembab dan berjamur,” ujar dia. Gerabah dengan bahan itu paling jauh laku di Malaysia dan Singapura.
Soleh mengatakan gerabah dengan pecahan kaca memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilapisi pasir. Karena bahan bakunya mahal. Untuk sebuah vas bunga dengan tinggi 60 sentimeter dan diameter 30-45 sentimeter, seharga Rp 45.000.
Nah bila Anda tidak puas sekedar membeli barang saja, di Kasongan juga terdapat galeri. Beberapa toko menyediakan workshop membuat gerabah. Biasanya toko-toko yang berada di sebelah Barat, Jembatan Kasongan.
Menurut Soleh, sekitar 20 persen pedagang di Kasongan memberikan pelatihan membuat gerabah. Mereka yang belajar kebanyakan siswa. Rencananya pada 3 Mei mendatang, sekitar 50 siswa asal Jakarta akan datang berguru pada dia.
Wisatawan pun dapat memilih berlatih di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengembangan Keramik Kasongan. Adapun para pengrajin gerabah Kasongan ini buka setiap hari dari pagi sampai malam hari. Bahkan ada yang 24 jam. Di akhir pekan bisa sampai pukul 11 malam.
Saat Tempo berkunjung ke Candi Borobudur, Magelang, gerabah juga dijual para pedagang di pintu keluar candi. Namun harga yang ditawarkan pedagang lebih tinggi. Pun bila dibandingkan dengan pedagang di sepanjang Malioboro, Yogyakarta.
Selamat berbelanja gerabah murah dan cantik di Kasongan!
MARTHA WARTA SILABAN
PS: dimuat di Tempo.co
Gerabah yang disajikan pada setiap toko memiliki keunikan dan harga yang berbeda-beda. Selain gerabah, berbagai perkakas yang terbuat dari kayu dan bambu pun disuguhkan. Antara lain mainan tradisional anak, alat musik tradisional, hiasan rumah, dan sendok penggorengan.
Salah satu toko milik Rahmat Soleh, 30 tahun, menawarkan produk oleh-oleh atau souvenir. Seperti wadah tisu, tempat lilin, asbak, tempat pensil yang berukuran mug, tempat pensil berbentuk sapi, vas bunga, asesoris rambut, dan patung si Mbah.
Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 1000 sampai Rp 65.000. Harga tertinggi itu, kata dia, untuk patung si Mbah. Yakni patung berupa pasangan Mbah Kakung dan Mbah Putri yang dilengkapi dengan kain batik. “Itu bahannya kan lebih tebal,” kata Soleh, Kamis 5 April 2012. Pengalaman Tempo, harga barang di Kasongan dapat ditawar.
Pemilik toko Nurya Craft Yogya itu mengatakan sedikitnya ada 20 model gerabah yang dibuat setiap minggunya (untuk finishing). Setiap model terdiri dari 100 buah. “Toko saya pernah disurvei oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada mempunyai stok terbesar,” kata dia yang pernah mengekspor ke Perancis.
Ia mengatakan tren gerabah saat ini adalah kendi atau guci dan vas bunga yang diberi tempelan pasir. Paling tidak itu tren dalam satu tahun terakhir. Dua tahun sebelumnya, gerabah diberi variasi dengan pecahan kaca sehingga terlihat cantik. Beberapa toko masih terlihat menyediakan model ini.
Namun, kata dia, gerabah dengan tempelan pasir hanya laku di pasaran lokal. “Tidak tembus ekspor, karena di ruangan ber-AC akan lembab dan berjamur,” ujar dia. Gerabah dengan bahan itu paling jauh laku di Malaysia dan Singapura.
Soleh mengatakan gerabah dengan pecahan kaca memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilapisi pasir. Karena bahan bakunya mahal. Untuk sebuah vas bunga dengan tinggi 60 sentimeter dan diameter 30-45 sentimeter, seharga Rp 45.000.
Nah bila Anda tidak puas sekedar membeli barang saja, di Kasongan juga terdapat galeri. Beberapa toko menyediakan workshop membuat gerabah. Biasanya toko-toko yang berada di sebelah Barat, Jembatan Kasongan.
Menurut Soleh, sekitar 20 persen pedagang di Kasongan memberikan pelatihan membuat gerabah. Mereka yang belajar kebanyakan siswa. Rencananya pada 3 Mei mendatang, sekitar 50 siswa asal Jakarta akan datang berguru pada dia.
Wisatawan pun dapat memilih berlatih di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengembangan Keramik Kasongan. Adapun para pengrajin gerabah Kasongan ini buka setiap hari dari pagi sampai malam hari. Bahkan ada yang 24 jam. Di akhir pekan bisa sampai pukul 11 malam.
Saat Tempo berkunjung ke Candi Borobudur, Magelang, gerabah juga dijual para pedagang di pintu keluar candi. Namun harga yang ditawarkan pedagang lebih tinggi. Pun bila dibandingkan dengan pedagang di sepanjang Malioboro, Yogyakarta.
Selamat berbelanja gerabah murah dan cantik di Kasongan!
MARTHA WARTA SILABAN
PS: dimuat di Tempo.co

Comments
Post a Comment