Menikmati Sepotong Kalimantan

Menikmati Sepotong Kalimantan

Terpikat keindahan Danau Otong dan kearifan lokal masyarakat Gunung Laet. Juga melintasi jalan menantang menuju perbatasan Indonesia-Malaysia.
——————————
Remba Otong, Dusun Remba Kedokok, Desah Subah, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat
Remba Otong, Dusun Remba Kedokok, Desah Subah, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat
“Bensinnya habis, Ja,” kata Pak Ala, nelayan yang mengendalikan perahu motor di tengah Danau Laet, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Sontak saya dan kawan-kawan yang menumpang perahu itu kaget. Mata kami bertatapan satu sama lain. Jantung saya sempat berdegup kencang.
Lalu, seorang kawan yang duduknya di hadapan saya, Jan, berkata: “Kalau bensin habis, bagaimana kita?” Hal itu dijawab rekan lain dengan polosnya: “Ya, dayunglah!” Waduh, mendayung perahu sampai ke tepian bisa memakan waktu berjam-jam.
Tapi, belum sampai ke pembahasan tentang dayung-mendayung, Pak Ala berkata lagi: “Masih ada satu liter, Ja.” Pak Ala tersenyum, dan kami semua bernapas lega. Salah seorang di antara kami, yang sedang merekam keindahan alam di danau, pun kembali melanjutkan kegiatannya.
Perjalanan menyusuri danau yang memiliki luas 700 hektare ini kembali berlanjut. Di kiri-kanan, rawa-rawa kembali terlihat cantik. Padahal semula, ketika mesin motor perahu berhenti, rawa-rawa itu terlihat lebih mirip “neraka” karena bisa jadi buaya bertengger di sana dan siap menyerang kami. Itulah pikiran orang kota seperti saya.
Dan ketika perahu melaju lagi menuju desa, saya membasuh wajah dengan mengambil air danau yang masih jernih itu beberapa kali. Segar. Saya bersyukur bisa mengunjungi danau yang pernah dijadikan lokasi syuting pembuatan film Tanah Surga…, Katanya (2012) itu.
Danau Laet ini akrab disebut Danau Otong. Berasal dari nama desa di tepinya, yakni Remba Otong, Dusun Remba Kedokok, Desah Subah, Kecamatan Tayan Hilir, Kabupaten Sanggau. Danau ini “dijaga” Gunung Laet.
Jernihnya air di Danau Laet, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat
Jernihnya air di Danau Laet, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat
Sebagian besar penduduk desa, yang berasal dari suku Dayak Toban, bermata pencaharian sebagai peladang dan petani. Namun kehidupan mereka sekarang terancam oleh pertambangan bauksit yang menggali bukit-bukit di sekitar danau. “Air danau akan kering di musim kemarau, dan sawah tak terairi,” kata seorang penduduk.
Setiba kami kembali di dusun, warga menawari kami makan buah kantoh (duku). Di sini tumbuh ratusan pohon kantoh. Bila sedang panen, buahnya berjatuhan di sekitar rumah. Tidak ada yang menampungnya, apalagi untuk memasarkannya ke Pontianak.
Sayang, memang. Alat transportasi adalah kendala untuk memasarkan kantoh. Di samping itu, harganya kelewat rendah. Di Pontianak saja, buah kantoh dijual Rp 5.000 per kilogram. Beli 5 kilogram mendapat potongan harga Rp 5.000.
Kalaupun ada buah yang dinantikan, itu adalah durian. Setiap kali panen durian di Gunung Laet, seluruh penduduk kampung pindah, termasuk anak-anak mereka. Selama sebulan, mereka bermukim di gunung untuk memanen durian.
Kira-kira, setiap hari, tiap keluarga mendapat 17-20 butir durian, yang dijual sekitar Rp 100 ribu. Istimewanya, tidak ada yang maling atau orang yang mengambil barang-barang milik keluarga selama mereka mengungsi ke gunung.
***
Puas menikmati Danau Otong, keesokan harinya saya dan rombongan meluncur menuju perbatasan Indonesia-Malaysia Timur (Serawak). Tepatnya ke Aruk, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Rencananya, kami ingin mengetahui suasana masyarakat Aruk yang berbatasan langsung dengan kawasan Lundu, Serawak.
Menurut sopir yang membawa kami, perjalanan akan ditempuh dalam waktu sekitar 11 jam. Saya dan rombongan harus melewati kecamatan demi kecamatan dengan kondisi jalan yang “aduhai”, membuat saya tidak bisa tertidur lelap sedetik pun meski sudah menenggak obat anti-mabuk.
Satu setengah jam dari Pontianak menuju Kecamatan Sungai Pinyuh, Kabupaten Pontianak, kami berhenti dulu untuk membeli camilan di toko Sinar Sari. Menurut Lina Krisna, rekan dari Yayasan Pemberdayaan Pefor Nusantara (YPPN) Kalimantan Barat, kawasan ini terkenal dengan jajanannya. “Orang Jakarta yang datang ke Pontianak pasti tahu tempat ini. Sudah terkenal,” kata Lina. Salah satunya adalah lempo (dodol durian).
Setelah beristirahat sekitar setengah jam, kami menuju Mempawah, ibu kota Kabupaten Pontianak, lalu melewati Singkawang, terus menuju Pemangkat dan berhenti di Kabupaten Sambas, kira-kira pukul 21.00. Di Sambas, kami makan malam dengan menu bakso dan mi. Beberapa rekan sempat membelah durian yang dibeli di tengah jalan.
Ketika kami melanjutkan perjalanan menuju Aruk, rasa kantuk mulai menghinggapi. Tapi, belum sempat mata ini menutup, tiba-tiba saya terhenyak karena mobil berguncang-guncang akibat jalanan berlubang. Jalan yang berlubang tidak hanya sepotong, melainkan sepanjang 88 kilometer dari Galing, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, sampai ke perbatasan Aruk. Jalan ditimbun dengan pasir dan batu-batu. Pada sejumlah titik, timbunan disertai sisa longsoran tanah. Beberapa kali mobil harus mengerem menghindari lubang atau batu-batu.
Perut terasa mual terkocok-kocok di jalan tak beraspal itu, selama tiga jam perjalanan. Dari dalam mobil, tampak debu tebal beterbangan. Aku juga melihat sejumlah lubang jalan berdiameter 3-4 meter yang digenangi air.
Jalan rusak di perbatasan Aruk, kabupaten Sambas, Kalimantan Barat
Jalan rusak di perbatasan Aruk, kabupaten Sambas, Kalimantan Barat
Kendaraan harus melaju perlahan ketika melewati jembatan kayu tua. Jembatan sudah tinggal separuh, hanya bisa dilalui di satu sisinya. Jalan itu kami lewati lagi ketika perjalanan pulang keesokan harinya. “Rock and roll, guncang-guncang,” kata Pak Pendi, sopir yang mengantar kami, akhir Januari lalu.
Penderitaan itu baru berakhir ketika kami tiba di hotel. Saya akhirnya bisa tidur sekitar 5 jam, setelah tiba sekitar pukul 1 dinihari. Pagi menjelang, udara di perbatasan Aruk masih segar.
Menurut Sekretaris Desa Aruk Sajingan Besar, Subot, sebagian jalan dari Sambas menuju perbatasan sudah ada sejak 1980-an, dan sisanya menyusul dibuka pada 2000. Namun belum ada perbaikan sampai saat ini. “Jalan beraspal yang masih mulus hanya 18 kilometer,” kata dia ketika ditemui di rumah tokonya di Dusun Aruk, Sajingan Besar.
Hal itulah yang menyebabkan warga Aruk lebih memilih belanja ke Lundu dibanding ke Sambas. Selain jalannya lebih mulus, harga berbagai bahan pokok, seperti beras dan gula, lebih murah. Subot, sebagai pemilik toko, pun berbelanja ke Lundu. Saya melihat tabung gas merek Petronas, aneka camilan keluaran Malaysia, dijual di sana.
Kondisi jalan jauh berbeda saat kami melintasi perbatasan Biawak, Malaysia, sampai di distrik Lundu. Jalan mulus beraspal dan hanya sisa beberapa kilometer yang kini dalam perbaikan. Burung bangunan dan pekerja dengan alat berat tampak bekerja merapikan jalur transportasi.
Pedagang berjualan di Pasar Lundu, Biawak, Serawak.
Pedagang berjualan di Pasar Lundu, Biawak, Serawak.
Menurut Pak Juang, sopir mobil travel yang mengantar ke Lundu, perbaikan jalan perbatasan di Biawak akan selesai Mei mendatang. Pun ketika kami tiba di pasar Lundu, para pedagang berjualan dengan rapi dan tertib. Pasar bersih, hampir mirip pasar modern.
Kami pun menyempatkan makan siang di sebuah restoran di Lundu. Kota ini sepi, tidak terlihat banyak mobil ataupun sepeda motor. Tapi di restoran itu ada cukup banyak orang. Delapan puluh persen bangku terisi. Saya minum teh tarik.
*****
Selain bertandang ke Aruk di perbatasan Indonesia-Malaysia, saya dan rombongan menyempatkan mampir ke Kota Singkawang. Hari sudah lewat pukul 18.00. Mobil pun diparkir di tengah kota, di sekitar alun-alun. Gantungan lampion sudah terpasang menghiasi jalan-jalan, termasuk di Kuil Saka Darma, yang terletak di persimpangan.
Warna merah menjadi dominan sebagai lambang Imlek. Sekadar iseng, saya mengunjungi toko Point 2000 di Jalan Sejahtera. Toko itu saya pilih karena menyediakan berbagai pernak-pernik perayaan Imlek. Dan saya ingin membeli oleh-oleh kecil.
Mimi, pedagang toko, mengatakan sebagian besar orang membeli lampion untuk menghiasi rumah mereka. Berbagai ukuran dan model lampion sudah laku terjual. “Lampion paling laris,” kata ibu satu anak itu.
Ia mengatakan omzet penjualan per hari mencapai Rp 18 juta. Harga produk dimulai dari Rp 3.500 sampai Rp 925 ribu. Ada amplop angpau, bunga mehwah, kotak permen, dan hiasan boneka meja berwarna keemasan. “Ya, hampir semua orang di Singkawang merayakan Imlek,” kata dia. Menurut dia, jumlah pembeli akan bertambah sampai Cap Go Meh atau 15 hari setelah Imlek.
Mimi dan suaminya sudah belanja aksesori itu sejak sebulan yang lalu. Sebagian dibeli dari Kuching, Malaysia, dan sisanya dari Jakarta, seperti di Asemka dan Mangga Dua. “Ada juga yang antar langsung ke sini,” ia berujar.
Ketika saya tiba di Pontianak kembali, suasana Imlek sudah terasa, antara lain di Jalan Gajah Mada. Toko dan hotel di sepanjang jalan tersebut menghiasi bangunan dengan lampion.
MARTHA WARTA SILABAN
(dimuat di Koran Tempo edisi Minggu, 12 Mei 2013)
 
Leave a comment Posted by on May 16, 2013 in Culture, Travel
 

Gehu dan Pancake

Setidaknya di bulan Oktober ini, saya mencoba dua resep masakan. Yang pertama, gehu atau singkatan dari tahu isi toge, jenis penganan asli Indonesia. Banyak yang jual gehu, mulai dari tukang gorengan, warung makan sampai restoran terkenal dan biasa-biasa saja.
Dan yang kedua, adalah pancake, yang saya ingat ini makanan orang bule. Atau di orang Batak disebutnya kue panukkup. Hehe.. Ada satu restoran “Pancake Parlour” dari Australia, di Teras Kota, BSD, Serpong. Harganya lumayan lah.. mahal. Apalagi kalau dibandingkan dengan membuatnya sendiri, tentu saja lebih irit.
gehu
gehu buatan sendiri, alami dan sehat euy
Toh kedua resep itu cukuplah sederhana untuk dipraktekkan.  Untuk membuat gehu, kita perlu modal bahan-bahan antara lain:
-   Tahu sayur yang berukuran kotak warna coklat mirip tahu sumedang. Kalau di pasar kebayoran, 10 biji, Rp 2500
-    Toge
-    Wortel, diiris-diiris tipis
-    Caisim putih (kalau suka saja, buat variasi)
-    Bawang putih
-    Cabe  merah 1 biji (kalau tidak suka pedas, boleh diabaikan)
-    Bawang daun dan seledri iris tipis-tipis.
-    Merica dan garam secukupnya
-    Tepung terigu secukupnya dan tepung beras (1 sendok makan)
-    Minyak goreng
Cara membuatnya:  Goreng  terlebih dahulu bawang putih, cabe merah. Kemudian masukkan toge, wortel, dan caisim yang sudah diris-iris tipis. Terakhir masukkan bawang daun dan seledri. Kasih garam. Angkat kemudian dinginkan. Lalu siapkan adonan tepung terigu dan tepung beras, diberi air, kasih garam dan merica. Belah tahu coklat, dan masukkan toge yang sudah dimasak ke dalam “perut” tahu, lalu “benamkan” ke dalam olahan tepung. Terakhir, gorenglah tahu, setelah warna tepung kuning kecoklatan, angkat dan tiriskan. Sajikan dengan tambahan cabe rawit (cengek, lamun ceuk urang Sunda mah hehe..)
cheese pancake
cheese pancake with grapes
Nah bila ingin mencoba membuat pancake (9 potong), siapkan terlebih dahulu bahan-bahannya sebagai berikut:
-  200 gram tepung
-  200 mililiter susu cair
- 1,5 sendok makan mentega dicairkan
-  Gula dan keju cheddar secukupnya
- Baking powder
Cara mengolah: tepung dan gula dikocok, masukkan susu cair, dan terakhir mentega yang sudah dicairkan.
Cara masak: Siapkan wajan mini diameter 10 sentimeter, nyalakan api kompor kecil. Lalu masukkan satu takaran adonan (satu sendok sayur bahan olahan). Setelah pinggirnya coklat, taburkan keju, bisa juga ditambah dengan wortel parut atau keju diganti dengan meses coklat. Bila warna permukaan sudah kuning kecoklatan, angkat pancake dan siap disajikan. Berikan buah stroberi atau anggur sebagai pendamping pancake, rasanya akan lebih segar di lidah.
Selamat mencoba dan jangan lupa bagi-bagi ya :)

 
Leave a comment Posted by on October 29, 2012 in Culture, Food, Fruits
 

TUHAN TIDAK PERNAH TERBURU-BURU

Tuhan, aku tahu Engkau tidak pernah terburu-buru
RencanaMu untukku terjadi pada waktunya
Engkau tidak membutuhkan tanda pengingat pada jadwalMu
Karena aku selalu ada dalam pikiranMu
Cathredale Notredame, Paris, France
Cathedrale Notre Dame, Paris, France
Aku tahu Engkau telah menggambar mozaik hidupku
Dan Engkau sedang meletakkan setiap kepingan pada tempatnya
Selagi aku terus mengikuti rencanaMu
Tolonglah aku untuk tidak tergesa-gesa dan berlomba
Menunggu seringkali sangat menyulitkan
Dan belajar bersabar tidaklah mudah bagiku
Namun memiliki hidup yang semakin seperti Kristus
Itulah yang kucari dan kurindukan

Selagi kepingan pola hidupku terus tersusun
Dan bagian selanjutnya mulai dibentangkan
Engkaulah yang kupuji dan kupercaya
TanganMulah yang kupegang dan kugenggam erat.
(by: Elaine Wright Calvin)
In front of Cathedale Notre Dame, Paris, 2010
In front of Cathedrale Notre Dame, Paris, 2010
Bible says:
Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11)
He has made everything beautiful in its time (Ecclesiates 3:11)
 
Leave a comment Posted by on September 14, 2012 in Culture, Poem, Travel
 

K POP PHENOMENON AND THE EMERGENCE OF BOY/GIRL BAND

The Korean wave or Hallyu is spreading quickly in Indonesia today. This phenomenon attracted young generation, especially those who likes Korean artists.  From Korean dramas, Korean film, Korean Pop, fashion, lifestyle and food. Even boyband and girlband emergence in local music industries imitating the Korean Pop.
In this paper, we discussed about how media playing a role to the emergence of one culture.  Through television and internet as a product of technology.  The research used social learning theory and message reception theory. It explains about human attitudes: social interaction, cognitive, attitude, and environment.
Using qualitative approach, data was collected through interview with 2 members of boybands (S9B and Raise), and 1 girlband (Princess); and documents.  As a result, we found some new boybands and girlbands imitating Korean Pop Culture.  They have inspiration from You Tube, TV Cable, DVD and CD.  They believe Korean phenomenon has attracted young fans in Indonesia and music industries.
Indonesian girlband 'Princess', formed by Kevin Aprilio
Indonesian girlband ‘Princess’, formed by Kevin Aprilio
 FENOMENA KOREAN POP DAN KEMUNCULAN BOY/GIRL BAND
Gelombang Korea atau Hallyu menyebar cepat di Indonesia saat ini. Fenomena ini menarik generasi muda, terutama mereka yang suka artis Korea. Dari drama Korea, film, Korean pop, fashion, gaya hidup dan makanan. Bahkan kemunculan boy band dan girl band di industri musik lokal meniru Korean pop.
Dalam penelitian ini, kami membahas tentang bagaimana media memainkan peran dalam kemunculan suatu budaya, melalui televisi dan internet sebagai produk teknologi. Penelitian ini menggunakan teori belajar sosial. Teori ini menjelaskan tentang sikap manusia: interaksi sosial, kognitif, sikap, dan lingkungan. Selain itu dalam penelitian ini juga menggunakan teori penerimaan pesan.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan 2 anggota boybands (S9B dan Raise), dan 1 girlband (Princess), serta dokumen-dokumen terkait. Berdasarkan hasil penelitian  beberapa boybands dan girlbands baru meniru Budaya Pop Korea. Mereka memiliki inspirasi dari You Tube, Cable TV, DVD dan CD. Mereka percaya fenomena Korea telah menarik penggemar muda di Indonesia dan industri musik.
(Gracia Rachmi Adiarsi, Yolanda Stellarosa, Martha Warta Silaban)
PS: paper presented at 3rd International Communication Conference LSPR-Jakarta, 2012

 
5 Comments Posted by on August 17, 2012 in Culture, Education
 

LSPR as Examining Body for Journalist Competency Test

STIKOM The London School of Public Relations Jakarta, the best graduate school of communication in Indonesia in collaboration with Indonesia journalist union (Persatuan Wartawan Indonesia) conducted Journalist Competency Test last Friday, 1 June 2012. As many as 15 lecturers in LSPR joined the three-stages test to be the Number One Press, who then will examine those (alumni and public) who wish to be a journalist. Lecturers who have joined the workshop and test were:
Tranining of Trainers at Hotel Ria Diani, Bogor
Training of Trainers at Hotel Ria Diani, Bogor
1. Arswendo Atmowiloto*
2. Dr. Artini Suparmo*
3. Dr. Felix Jebarus, M.Si
4. A. Edhy Aruman, M.Si
5. Zarman Syah, Ph.D (Ad)
6. Drs. Rendro Dhani, M.Si
7. Dana Sumirat
8. Joe H. Setiawan, M.Si
9. Drs. Teguh Poeradisastra, MM
10. Nico Wattimena, MA, Ph.D, MCIPR
11. Aprida Sihombing, M.Si
12. Drs. B. Sri Tunggul Pannindriya, MA
13. Martha W. Silaban, M.Si
14. Hersinta, M.Si
15. Teguh Santosa, MA
Mr. Arswendo Atomowiloto and Dr. Artini Suparmo have been the “number one press” before. The three stages test were Editorial Workshop, Journalist Competency test and TOT. Last 29-30 May 2012, the editorial workshop was held at LSPR PGP Activity Room, with various topics like Editorial Rubric Policy and Social Lobby (by Mr. Hendri Ch.Bangun), Investigative Reporting and Policies of Media (by Mr.Marah Sakti), Editorial Policies and Writing (by Mr. HM. Noeh Hatumena) and Journalist Competencies Test Methodology (by Ms. Maria Dian Andriana).
The next stage was the Journalist Competence Test conducted at LSPR Campus C last 1 June 2012 from 08.30-17.00 with Mr.Marah Sakti Siregar, Mr.Banjar Chaeruddin and Mr.Widodo Asmowiyoto as the examiners while Mr.HM Noeh Hatumena, Mr.Encub Soebekti and Mr.Atal S.Depari acted as observer.
Congratulations Lecturers!
(taken from 172nd LSPR News Online)
 
Leave a comment Posted by on June 10, 2012 in Education, Journalism
 

Kornel Sihombing, Penumpang Sukhoi, Si Pemersatu Keluarga

Sosok Kornel Mandagi Sihombing, 48, korban tragedi Sukhoi, dikenal sebagai pemersatu keluarga. “Dia selalu menyatukan kami semua,” kata Erni, 42 tahun, kakak ipar Kornel yang ditemui di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, kemarin.
Erni mengenang Onyek—sapaannya- sebagai orang yang penuh kepedulian. “Kalau Natal, dia selalu berinisiatif mengumpulkan keluarganya,” kata dia yang datang dari Pontianak. Bahkan tak segan membiayai tiket saudara-saudaranya yang tinggal berjauhan di Papua dan Pontianak.
Onyek anak keempat dari enam bersaudara. Ia merupakan Kepala Divisi Integrasi Bisnis PT. Dirgantara Indonesia (DI), yang diundang joy flight Sukhoi Superjet 100, pada Rabu 9 Mei 2012 lalu. Alumni Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung 1983 dan melanjutkan studi Material di Universitas Teknik Delft, Belanda, pada 1997.
Jenazah Kornel M Sihombing diserahkan pada keluarga di Bandara Halim Perdanakusuma, 23 April 2012
Jenazah Kornel M Sihombing diserahkan pada keluarga di Bandara Halim Perdanakusuma, 23 April 2012
Direktur Aircraft Integration PT DI, Budiman Saleh, yang satu angkatan dengan Onyek mengenalnya sebagai orang yang open minded. Hobinya tenis, main basket dan sepak bola. Dia salah satu pelobi untuk kerjasama dengan perusahaan asing. Sobatnya, Sahat Sitorus mengatakan dia aktif kegiatan lintas agama.
Di mata Chandra Sihombing, 50 tahun, adiknya itu periang dan mudah akrab. Menurut dia, Onyek sangat mencintai dunia penerbangan. “Dia tetap di perusahaan (PT DI) meskipun temannya banyak yang keluar,” kata dia. Sebelum terbang, Onyek pernah menelepon dan minta diajarkan main golf.
Kornel meninggalkan seorang istri, Indriyati Ayub, 48 tahun dan dua anak, Corin, 11, dan Luhut, 8. Onyek adalah penatua di GKI Maulana Yusuf (MY), Bandung dan terlibat pelayanan MY Leadership. Kerabat dan rekan korban berdatangan silih berganti ke rumah duka di Jalan Gempol 117, Bandung.
MARTHA WARTA SILABAN|SUBKHAN| ERICK PRIBERKAH
dimuat di Koran Tempo dan Tempo.co
—–
Saya mengenal Bang Onyek, ketika mengikuti Persekutuan Pemuda di GKI MY sekitar tahun 2000. Tidak ingat pasti, kapan waktunya tapi kala itu teman-teman di Pemuda senang berdiskusi dengan dia. Dia dan istrinya pernah juga memberikan kesaksian di PP Pemuda. ( profil Bang Onyek )
Kornel dan keluarga
Kornel bersama Indriyati, serta dua anaknya Corin dan Luhut (property of http://www.fokal.info)
Bapak saya mengatakan, dia bermarga Silaban, tapi karena jaman dulu banyak Silaban pakai marga Sihombing. Adapun Toga Sihombing terdiri dari Silaban, Nababan, Lumbantoruan, dan Hutasoit.
Orang tua saya katakan, keluarga Bang Onyek adalah orang baik, pintar dan ramah pada kerabat. Bapaknya pernah menjadi Komandan Brimob di Bandung pada 1970-an. Dan kalau berkunjung ke rumahnya pasti disuruh makan.
Selamat jalan Ito, semoga jejak kakimu tetap dikenang di GKI MY, keluarga, dan setiap orang yang mengenalmu…
 
Leave a comment Posted by on May 14, 2012 in Culture, News
 

Gerabah Cantik dan Murah dari Kasongan

Patung si Mbah di salah satu toko di Kasongan, Bantul, Yogyakarta
'si Mbah' statue at one shop in Kasongan, Bantul, Yogyakarta
YOGYAKARTA-Bila Anda berkunjung ke Yogyakarta, mampirlah ke Kasongan di Kabupaten Bantul. Di tempat ini, berbagai perkakas terbuat dari tanah liat atau gerabah tersedia dalam aneka rupa. Kendi, vas bunga, patung, perabotan rumah tangga dan souvenir.
Gerabah yang disajikan pada setiap toko memiliki keunikan dan harga yang berbeda-beda. Selain gerabah, berbagai perkakas yang terbuat dari kayu dan bambu pun disuguhkan. Antara lain mainan tradisional anak, alat musik tradisional, hiasan rumah, dan sendok penggorengan.
Salah satu toko milik Rahmat Soleh, 30 tahun, menawarkan produk oleh-oleh atau souvenir. Seperti wadah tisu, tempat lilin, asbak, tempat pensil yang berukuran mug, tempat pensil berbentuk sapi, vas bunga, asesoris rambut, dan patung si Mbah.
Harga yang ditawarkan mulai dari Rp 1000 sampai Rp 65.000. Harga tertinggi itu, kata dia, untuk patung si Mbah. Yakni patung berupa pasangan Mbah Kakung dan Mbah Putri yang dilengkapi dengan kain batik. “Itu bahannya kan lebih tebal,” kata Soleh, Kamis 5 April 2012. Pengalaman Tempo, harga barang di Kasongan dapat ditawar.
Pemilik toko Nurya Craft Yogya itu mengatakan sedikitnya ada 20 model gerabah yang dibuat setiap minggunya (untuk finishing). Setiap model terdiri dari 100 buah. “Toko saya pernah disurvei oleh mahasiswa Universitas Gadjah Mada mempunyai stok terbesar,” kata dia yang pernah mengekspor ke Perancis.
Ia mengatakan tren gerabah saat ini adalah kendi atau guci dan vas bunga yang diberi tempelan pasir. Paling tidak itu tren dalam satu tahun terakhir. Dua tahun sebelumnya, gerabah diberi variasi dengan pecahan kaca sehingga terlihat cantik. Beberapa toko masih terlihat menyediakan model ini.
Namun, kata dia, gerabah dengan tempelan pasir hanya laku di pasaran lokal. “Tidak tembus ekspor, karena di ruangan ber-AC akan lembab dan berjamur,” ujar dia. Gerabah dengan bahan itu paling jauh laku di Malaysia dan Singapura.
Soleh mengatakan gerabah dengan pecahan kaca memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang dilapisi pasir. Karena bahan bakunya mahal. Untuk sebuah vas bunga dengan tinggi 60 sentimeter dan diameter 30-45 sentimeter, seharga Rp 45.000.
Nah bila Anda tidak puas sekedar membeli barang saja, di Kasongan juga terdapat galeri. Beberapa toko menyediakan workshop membuat gerabah. Biasanya toko-toko yang berada di sebelah Barat, Jembatan Kasongan.
Menurut Soleh, sekitar 20 persen pedagang di Kasongan memberikan pelatihan membuat gerabah. Mereka yang belajar kebanyakan siswa. Rencananya pada 3 Mei mendatang, sekitar 50 siswa asal Jakarta akan datang berguru pada dia.
Wisatawan pun dapat memilih berlatih di Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pengembangan Keramik Kasongan. Adapun para pengrajin gerabah Kasongan ini buka setiap hari dari pagi sampai malam hari. Bahkan ada yang 24 jam. Di akhir pekan bisa sampai pukul 11 malam.
Saat Tempo berkunjung ke Candi Borobudur, Magelang, gerabah juga dijual para pedagang di pintu keluar candi. Namun harga yang ditawarkan pedagang lebih tinggi. Pun bila dibandingkan dengan pedagang di sepanjang Malioboro, Yogyakarta.
Selamat berbelanja gerabah murah dan cantik di Kasongan!
MARTHA WARTA SILABAN
PS: dimuat di Tempo.co
 
Leave a comment Posted by on April 8, 2012 in Culture, Travel
 
 

Comments