cerita rakyat



CERITA RAKYAT - BATU GANTUNG-PARAPAT (SUMUT)

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgb2mrDS0rDBZCvnoMFRwG0w-SjLgoWKtDEq5lHFNvAT3VQ0Za_3ohn_nURyv4mohHpOhkjsfsL06oK-1PB9AG7Md10Sq0sBZORw6F-mrSIkVG46W_XLDEe5N_zuCu-23mqj1mUT_p26Xmm/s320/ibatu+gantung.jpg
Parapat atau Prapat adalah sebuah kota kecil yang berada di wilayah Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Indonesia. Kota kecil yang terletak di tepi Danau Toba ini merupakan tujuan wisata yang ramai dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota ini memiliki keindahan alam yang sangat mempesona dan didukung oleh akses jalan transportasi yang bagus, sehingga mudah untuk dijangkau.
Kota ini sering digunakan sebagai tempat singgah oleh para wisatawan yang melintas di Jalan Raya Lintas Sumatera (Jalinsum) bagian barat yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Padang. Selain sebagai objek wisata yang eksotis, Parapat juga merupakan sebuah kota yang melegenda di kalangan masyarakat di Sumatera Utara. Dahulu, kota kecil ini merupakan sebuah pekan yang terletak di tepi Danau Toba. Setelah terjadi suatu peristiwa yang sangat mengerikan, tempat itu oleh masyarakat diberi nama Parapat atau Prapat.
Dalam peristiwa itu, muncul sebuah batu yang menyerupai manusia yang berada di tepi Danau Toba. Menurut masyarakat setempat, batu itu merupakan penjelmaan seorang gadis cantik bernama Seruni. Peristiwa apa sebenarnya yang pernah terjadi di pinggiran kota kecil itu? Kenapa gadis cantik itu menjelma menjadi batu? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Batu Gantung berikut ini!.
Alkisah,di sebuah desa terpencil di pinggiran Danau Toba Sumatera Utara, hiduplah sepasang suami-istri dengan seorang anak perempuannya yang cantik jelita bernama Seruni. Selain rupawan, Seruni juga sangat rajin membantu orang tuanya bekerja di ladang. Setiap hari keluarga kecil itu mengerjakan ladang mereka yang berada di tepi Danau Toba, dan hasilnya digunakan untuk mencukupikebutuhan sehari-hari.
Pada suatu hari, Seruni pergi ke ladang seorang diri, karena kedua orang tuanya ada keperluan di desa tetangga. Seruni hanya ditemani oleh seekor anjing kesayangannya bernama si Toki. Sesampainya di ladang, gadis itu tidak bekerja, tetapi ia hanya duduk merenung sambil memandangi indahnya alam Danau Toba.
Sepertinya ia sedang menghadapi masalah yang sulit dipecahkannya. Sementara anjingnya, si Toki, ikut duduk di sebelahnya sambil menatap wajah Seruni seakan mengetahui apa yang dipikirkan majikannya itu. Sekali-sekali anjing itu menggonggong untuk mengalihkan perhatian sang majikan, namun sang majikan tetap saja usik dengan lamunannya.
Memang beberapa hari terakhir wajah Seruni selalu tampak murung. Ia sangat sedih, karena akan dinikahkan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pemuda yang masih saudara sepupunya. Padahal ia telah menjalin asmara dengan seorang pemuda pilihannya dan telah berjanji akan membina rumah tangga yang bahagia. Ia sangat bingung. Di satu sisi ia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya, dan di sisi lain ia tidak sanggup jika harus berpisah dengan pemuda pujaan hatinya. Oleh karena merasa tidak sanggup memikul beban berat itu, ia pun mulai putus asa.
“Ya, Tuhan! Hamba sudah tidak sanggup hidup dengan beban ini,” keluh Seruni. Beberapa saat kemudian, Seruni beranjak dari tempat duduknya. Dengan berderai air mata, ia berjalan perlahan ke arah Danau Toba. Rupanya gadis itu ingin mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam itu.
Sementara si Toki, mengikuti majikannya dari belakang sambil menggonggong. Dengan pikiran yang terus berkecamuk, Seruni berjalan ke arah tebing Danau Toba tanpa memerhatikan jalan yang dilaluinya. Tanpa diduga, tiba-tiba ia terperosokke dalam lubang batu yang besar hingga masuk jauh ke dasar lubang. Batu cadas yang hitam itu membuat suasana di dalam lubang itu semakin gelap. Gadis cantik itu sangat ketakutan. Di dasar lubang yang gelap, ia merasakan dinding-dinding batu cadas itu bergerak merapat hendak menghimpitnya. “Tolooooggg……! Tolooooggg……! Toloong aku, Toki!” terdengar suara Seruni meminta tolong kepada anjing kesayangannya.
Si Toki mengerti jika majikannya membutuhkan pertolongannya, namun ia tidak dapat berbuat apa-apa, kecuali hanya menggonggong di mulut lubang. Beberapa kali Seruni berteriak meminta tolong, namun si Toki benar-benar tidak mampu menolongnnya. Akhirnya gadis itu semakin putus asa.
“Ah, lebih baik aku mati saja daripada lama hidup menderita,” pasrah Seruni.
Dinding-dinding batu cadas itu bergerak semakin merapat. “Parapat! Parapat batu… Parapat!” seru Seruni menyuruh batu itu menghimpit tubuhnya.. Sementara si Toki yang mengetahui majikannya terancam bahaya terus menggonggong di mulut lubang. Merasa tidak mampu menolong sang majikan, ia pun segera berlari pulang ke rumah untuk meminta bantuan. Sesampai di rumah majikannya, si Toki segera menghampiri orang tua Seruni yang kebetulan baru datang dari desa tetangga berjalan menuju rumahnya. “Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki menggonggong sambil mencakar-cakar tanah untuk memberitahukan kepada kedua orang tua itu bahwa Seruni dalam keadaan bahaya.
“Toki…, mana Seruni? Apa yang terjadi dengannya?” tanya ayah Seruni kepada anjing itu.
“Auggg…! auggg…! auggg…!” si Toki terus menggonggong berlari mondar-mandir mengajak mereka ke suatu tempat.“Pak, sepertinya Seruni dalam keadaan bahaya,” sahut ibu Seruni.
“Ibu benar. Si Toki mengajak kita untuk mengikutinya,” kata ayah Seruni. “Tapi hari sudah gelap, Pak. Bagaimana kita ke sana?” kata ibu Seruni. “Ibu siapkan obor! Aku akan mencari bantuan ke tetangga,” seru sang ayah. Tak lama kemudian, seluruh tetangga telah berkumpul di halaman rumah ayah Seruni sambil membawa obor. Setelah itu mereka mengikuti si Toki ke tempat kejadian. Sesampainya mereka di ladang, si Toki langsung menuju ke arah mulut lubang itu. Kemudian ia menggonggong sambil mengulur-ulurkan mulutnya ke dalam lubang untuk memberitahukan kepada warga bahwa Seruni berada di dasar lubang itu. Kedua orang tua Seruni segera mendekati mulut lubang. Alangkah terkejutnya ketika mereka melihat ada lubang batu yang cukup besar di pinggir ladang mereka. Di dalam lubang itu terdengar sayup-sayup suara seorang wanita: “Parapat… ! Parapat batu… Parapat!” “Pak, dengar suara itu! Itukan suara anak kita! seru ibu Seruni panik.
“Benar, bu! Itu suara Seruni!” jawab sang ayah ikut panik. “Tapi, kenapa dia berteriak: parapat, parapatlah batu?” tanya sang ibu. “Entahlah, bu! Sepertinya ada yang tidak beres di dalam sana,” jawab sang ayah cemas.
Pak Tani itu berusaha menerangi lubang itu dengan obornya, namun dasar lubang itu sangat dalam sehingga tidak dapat ditembus oleh cahaya obor. “Seruniii…! Seruniii… !” teriak ayah Seruni. “Seruni…anakku! Ini ibu dan ayahmu datang untuk menolongmu!” sang ibu ikut berteriak.
Beberapa kali mereka berteriak, namun tidak mendapat jawaban dari Seruni. Hanya suara Seruni terdengar sayup-sayup yang menyuruh batu itu merapat untuk menghimpitnya. “Parapat… ! Parapatlah batu… ! Parapatlah!”“Seruniiii… anakku!” sekali lagi ibu Seruni berteriak sambil menangis histeris.
Warga yang hadir di tempat itu berusaha untuk membantu. Salah seorang warga mengulurkan seutas tampar (tali) sampai ke dasar lubang, namun tampar itu tidak tersentuh sama sekali. Ayah Seruni semakin khawatir dengan keadaan anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyusul putrinya terjun ke dalam lubang batu.
“Bu, pegang obor ini!” perintah sang ayah.
“Ayah mau ke mana?” tanya sang ibu.
“Aku mau menyusul Seruni ke dalam lubang,” jawabnya tegas.
“Jangan ayah, sangat berbahaya!” cegah sang ibu.
“Benar pak, lubang itu sangat dalam dan gelap,” sahut salah seorang warga.

Akhirnya ayah Seruni mengurungkan niatnya. Sesaat kemudian, tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Bumi bergoyang dengan dahsyatnya seakan hendak kiamat. Lubang batu itu tiba-tiba menutup sendiri. Tebing-tebing di pinggir Danau Toba pun berguguran. Ayah dan ibu Seruni beserta seluruh warga berlari ke sana ke mari untuk menyelamatkan diri. Mereka meninggalkan mulut lubang batu, sehingga Seruni yang malang itu tidak dapat diselamatkan dari himpitan batu cadas.
Beberapa saat setelah gempa itu berhenti, tiba-tiba muncul sebuah batu besar yang menyerupai tubuh seorang gadis dan seolah-olah menggantung pada dinding tebing di tepi Danau Toba. Masyarakat setempat mempercayai bahwa batu itu merupakan penjelmaan Seruni yang terhimpit batu cadas di dalam lubang. Oleh mereka batu itu kemudian diberi nama “Batu Gantung”.

Beberapa hari kemudian, tersiarlah berita tentang peristiwa yang menimpa gadis itu. Para warga berbondong-bondong ke tempat kejadian untuk melihat “Batu Gantung” itu. Warga yang menyaksikan peristiwa itu menceritakan kepada warga lainnya bahwa sebelum lubang itu tertutup, terdengar suara: “Parapat… parapat batu… parapatlah!”Oleh karena kata “parapat” sering diucapkan orang dan banyak yang menceritakannya, maka Pekan yang berada di tepi Danau Toba itu kemudian diberi nama “Parapat”.
Parapat kini menjadi sebuah kota kecil salah satu tujuan wisata yang sangat menarik di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Demikian cerita tentang asal-usul nama kota prapat. Cerita di atas termasuk cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah akibat buruk dari sifat putus asa atau lemah semangat. Sifat ini tercermin pada sikap dan perilaku Seruni yang hendak mengakhiri hidupnya dengan melompat ke Danau Toba yang bertebing curam, namunia justru terperosok ke dalam lubang batu dan menghimpitnya hingga akhirnya meninggal dunia















FOLKLORE - THE HANGING STONE-PARAPAT (SUMUT)

Parapat or Prapat is a small town located in the district of Simalungun, North Sumatra, Indonesia. The small town located on the shores of Lake Toba is a tourist destination visited by domestic and foreign tourists. The city has a very enchanting natural beauty and is supported by good transport access road, making it easy to reach.
The city is often used as a stopover by tourists who crossed Highway Traffic Sumatra (Jalinsum) that connects the western part of the city of Medan to Padang. Apart from being an exotic attraction, Parapat also a legendary city among the people in North Sumatra. Previously, this small town is a weekend that is located on the shores of Lake Toba. Once there was a terrible event, place it by the given name Parapat or Prapat.
In that event, there is a stone that resembles a human being on the edge of Lake Toba. According to local people, the stone is the embodiment of a beautiful girl named Chrysanthemum. Events what exactly happened on the outskirts of the small town? Why would a pretty girl is transformed into a rock? Want to know the answer? Follow the story in the story below Hanging Rock!.
Once, in a remote village on the outskirts of Lake Toba in North Sumatra, there lived a husband and wife with a beautiful maiden daughter named Chrysanthemum. In addition to beautiful, Chrysanthemum is also very diligent in helping parents work in the fields. Every day the little family work their fields on the edge of Lake Toba, and the results used to mencukupikebutuhan everyday.
One day, Chrysanthemum went to the fields alone, because there is a need both parents in a neighboring village. Seruni only accompanied by her beloved dog called the Toki. Arriving at the farm, she was not working, but he just sat there staring at the natural beauty of Lake Toba.
Looks like he was facing a difficult problem solved. While the dog, the Toki, come sit next to him, staring at the face of Chrysanthemum as if he knew what he was thinking that his employer. Once in a while the dog was barking to distract the attention of the employer, but the employer still usic with reverie.
Indeed, the last few days Seruni face always looked glum. He was very sad, because it will be married off by her parents at a young man who is his cousin. Though he had been having an affair with a young man and his choice has promised to build a happy home. He was very confused. On the one hand he does not want to disappoint his parents, and on the other hand he could not bear to part with her idol youth. Therefore felt unable to bear the heavy burden, he was getting desperate.
"Oh, God! Servants are not able to live with this burden, "complained Seruni. A few moments later, Chrysanthemum rose from his seat. With tears loose, he walked slowly toward the Lake Toba. Apparently she wanted to end her life by jumping into Lake Toba is rugged steep.
While the Toki, followed his master from behind while barking. With the thought that kept raging, Chrysanthemum walking toward the cliff path regardless of Lake Toba in its path. Unexpectedly, he suddenly terperosokke in a large gravel pit until deep into the bottom of the hole. Black rock that made the atmosphere in the hole was getting dark. Beautiful girl was very frightened. At the base of a dark hole, he felt the rock walls that move about to snuggle on him. "Tolooooggg ......! Tolooooggg ......! Toloong me, Toki! "Chrysanthemum voice asking for help to his dog.The Toki understand if the employer need his help, but he can not do anything except just barking at the mouth of the hole. Several times Seruni screaming for help, but the Toki really can not afford menolongnnya. Finally she was getting desperate.
"Ah, I better die than live long suffering," resigned Seruni.
The walls of rock, it's moving closer. "Parapat! Parapat Parapat stone ... "cried Chrysanthemum stone crushing told her .. While the employer knows Toki danger kept barking at the mouth of the hole. Feeling unable to help her employer, she immediately ran back to the house to ask for help. Arriving at her employer's house, the old man immediately approached Toki Seruni a new chance coming from a neighboring village to walk to her house. "Auggg ...! auggg ...! auggg ...! "the Toki barking while clawing at the ground to inform the parents that the Chrysanthemum in danger.
"Toki ..., where Seruni? What happened to her? "Chrysanthemum's father asked the dog.
"Auggg ...! auggg ...! auggg ...! "Toki kept barking the running back and forth to invite them to a place." Sir, it looks like Chrysanthemum in danger, "said the mother Seruni.

"You're right. The Toki invites us to follow him, "said the father Seruni. "But it was dark, sir. How do we get there? "She said Seruni. "You prepare a torch! I'll be looking for help to a neighbor, "said the father. Pretty soon, the whole neighborhood had gathered at the home page Seruni father carrying the torch. After that they followed the Toki to the scene. Once they were in the field, the Toki directly toward the mouth of the hole. Then he barked as he held out held out his mouth into a hole to let the people that are at the basis Chrysanthemum hole. Both parents Chrysanthemum immediately approached the mouth of the hole. What a surprise when they saw there was a hole big enough rock on the edge of their fields. In the pit was heard the faint sound of a woman: "Parapat ...! Parapat Parapat stone ... "" Sir, listen to that sound! Itukan voice of our children! Seruni mother cried in panic.
"Yes, ma'am! It sounds Seruni! "Replied the father participated panic. "But why did he yell: parapat, parapatlah stone" asked the mother. "I do not know, ma'am! It seems like there's something wrong in there, "said the anxious father.

Mr. Farmer was trying to light up the hole with a torch, but the bottom of the hole was so deep that can not be penetrated by the light of torches. "Seruniii ...! Seruniii ... "cried the father Seruni.
"Chrysanthemum ... my son! This mom and dad came to help! "Shouted the mother involved.
Several times they cried, but did not get a response from Seruni. Only the sound drifted Seruni who sent the stone to move up on him.

"Parapat ...! Parapatlah rocks ...! Parapatlah "" Seruniiii ... my son! "Chrysanthemum mother screamed again, crying hysterically.
Residents present at the site trying to help. One resident held a piece of slap (cord) to the bottom of the hole, but the slap was not touched at all. Father Seruni increasingly concerned with the state of his son.
He then decided to follow her foray into the gravel pit.
"Mom, hold this torch!" Ordered the father.
"I want to go?" Asked the mother.
"I want to catch up Seruni into the hole," he replied firmly.
"No dad, it's dangerous!" Prevent the mother.
"Yes sir, the hole was very deep and dark," said one resident.

Finally my father Seruni the attack. A moment later, suddenly the sound of thunder. Earth shook violently as if to end. Gravel pit suddenly close itself. The cliffs on the edge of Lake Toba was falling. Father and mother and all the people ran Chrysanthemum thither to escape. They abandoned gravel pit mouth, so that poor Seruni not be rescued from the crush rock.

Some time after the earthquake stopped, suddenly appeared a large rock that resembles the body of a girl and as if hanging on the cliff wall on the shores of Lake Toba. Local people believe that the stone was an incarnation Seruni a rock wedged in the hole. By their stone was then given the name "Hanging Rock".

A few days later, tersiarlah news of what had happened to the girl. Residents flocked to the scene to see the "Hanging Rock" is. Residents who witnessed the incident told other residents that before the hole closed, a voice: "Parapat ... parapat stone ... parapatlah!" Hence the word "parapat" are spoken and many people tell it, the week that was on the edge of Lake Toba then given the name "Parapat".
Parapat now become a small town a very attractive tourist destination in North Sumatra Province, Indonesia. Similarly, the story of the origin of the town name Prapat. The story above includes examples of folklore that contain moral messages that can be used as a guide in everyday life. One moral to be learned from the story above is a result of the nature of the desperate poor or weak spirit. This trait is reflected in the attitudes and behavior of Chrysanthemum who want to end his life by jumping into Lake Toba is rugged steep, namunia gets stuck into the gravel pit and squeezing until finally died







Cerita Rakyat: "Timun Emas" INDONESIA
Di suatu desa hiduplah seorang janda tua yang bernama mbok Sarni. Tiap hari dia menghabiskan waktunya sendirian, karena mbok Sarni tidak memiliki seorang anak. Sebenarnya dia ingin sekali mempunyai anak, agar bisa membantunya bekerja.
Pada suatu sore pergilah mbok Sarni ke hutan untuk mencari kayu, dan ditengah jalan mbok Sarni bertemu dengan raksasa yang sangat besar sekali. “Hei, mau kemana kamu?”, tanya si Raksasa. “Aku hanya mau mengumpulkan kayu bakar, jadi ijinkanlah aku lewat”, jawab mbok Sarni. “Hahahaha.... kamu boleh lewat setelah kamu memberiku seorang anak manusia untuk aku santap”, kata si Raksasa. Lalu mbok Sarni menjawab, “Tetapi aku tidak mempunyai anak”.
Setelah mbok Sarni mengatakan bahwa dia tidak punya anak dan ingin sekali punya anak, maka si Raksasa memberinya biji mentimun. Raksasa itu berkata, “Wahai wanita tua, ini aku berikan kamu biji mentimun. Tanamlah biji ini di halaman rumahmu, dan setelah dua minggu kamu akan mendapatkan seorang anak. Tetapi ingat, serahkan anak itu padaku setelah usianya enam tahun”.
Setelah dua minggu, mentimun itu nampak berbuah sangat lebat dan ada salah satu mentimun yang cukup besar. Mbok Sarni kemudian mengambilnya , dan setelah dibelah ternyata isinya adalah seorang bayi yang sangat cantik jelita. Bayi itu kemudian diberi nama timun emas.
Semakin hari timun emas semakin tumbuh besar, dan mbok Sarni sangat gembira sekali karena rumahnya tidak sepi lagi. Semua pekerjaannya bisa selesai dengan cepat karena bantuan timun emas.
Akhirnya pada suatu hari datanglah si Raksasa untuk menagih janji. Mbok Sarni sangat ketakutan, dan tidak mau kehilangan timun emas. Kemudian mbok Sarni berkata, “Wahai raksasa, datanglah kesini dua tahun lagi. Semakin dewasa anak ini, maka semakin enak untuk di santap”. Si Raksasa pun setuju dan meninggalkan rumah mbok Sarni.
Waktu dua tahun bukanlah waktu yang lama, karena itu tiap hari mbok Sarni mencari akal bagaimana caranya supaya anaknya tidak dibawa si Raksasa. Hati mbok Sarni sangat cemas sekali, dan akhirnya pada suatu malam mbok Sarni bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia diberitahu agar timun emas menemui petapa di Gunung.
Pagi harinya mbok Sarni menyuruh timun emas untuk segera menemui petapa itu. Setelah bertemu dengan petapa, timun emas kemudian bercerita tentang maksud kedatangannya. Sang petapa kemudian memberinya empat buah bungkusan kecil yang isinya biji mentimun, jarum, garam, dan terasi. “Lemparkan satu per satu bungkusan ini, kalau kamu dikejar oleh raksasa itu”, perintah petapa. Kemudian timun meas pulang ke rumah, dan langsung menyimpan bungkusan dari sang petapa.
Paginya raksasa datang lagi untuk menagih janji. “Wahai wanita tua, mana anak itu? Aku sudah tidak tahan untuk menyantapnya”, teriak si Raksasa. Kemudian mbok Sarni menjawab, “Janganlah kau ambil anakku ini wahai raksasa, karena aku sangat sayang padanya. Lebih baik aku saja yang kamu santap”. Raksasa tidak mau menerima tawaran dari mbok Sarni itu, dan akhirnya marah besar. “Mana anak itu? Mana timun emas?”, teriak si raksasa.
Karena tidak tega melihat mbok Sarni menangis terus, maka timun emas keluar dari tempat sembunyinya. “Aku di sini raksasa, tangkaplah aku jika kau bisa!!!”, teriak timun emas.
Raksasapun mengejarnya, dan timun emas mulai melemparkan kantong yang berisi mentimun. Sungguh ajaib, hutan menjadi ladang mentimun yang lebat buahnya. Raksasapun menjadi terhambat, karena batang timun tersebut terus melilit tubuhnya. Tetapi akhirnya si raksasa berhasil bebas juga, dan mulai mngejar timun emas lagi. Lalu timun emas menaburkan kantong kedua yang berisi jarum, dalam sekejap tumbuhlan pohon-pohon bambu yang sangat tinggi dan tajam. Dengan kaki yang berdarah-darah karena tertancap bambu tersebut si raksasa terus mengejar.
Kemudian timun emas membuka bingkisan ketiga yang berisi garam. Seketika itu hutanpun menjadi lautan luas. Tetapi lautan itu dengan mudah dilalui si raksasa. Yang terakhir Timun Emas akhirnya menaburkan terasi, seketika itu terbentuklah lautan lumpur yang mendidih, dan si raksasa tercebur di dalamnya. Akhirnya raksasapun mati.
Timun Emas mengucap syukur kepada Tuhan YME, karena sudah diselamatkan dari raksasa yang kejam. Akhirnya Timun Emas dan Mbok Sarni hidup bahagia dan damai.



Folklore: "Cucumbers Gold" INDONESIA

In a village there lived an old widow named mbok Sarni. Every day he spends his time alone, because mbok Sarni did not have a child. Actually she wanted to have children, in order to assist him.
One afternoon mbok Sarni go to the forest to gather wood, and the middle of the road mbok Sarni met with a very big giant. "Hey, where are you?", Asked the Giant. "I just want to collect firewood, so please allow me pass," said mbok Sarni. "Hahahaha .... You may pass after you give a human child to eat me, "said the Giant. Then mbok Sarni said, "But I do not have children."
After mbok Sarni said that she had no children and wanted to have children, then the Giants gave cucumber seeds. The giant said, "O old woman, I give you this cucumber seeds. Plant seeds in your backyard, and after two weeks you will have a child. But remember, leave him to me after the age of six years ".
After two weeks, it seems fruitful cucumber is very dense and there is a fairly large cucumber. Mbok Sarni then pick it up, and after the split turns out it was a baby that was very beautiful. The baby was later named golden cucumbers.
Every day more and more golden cucumber grew, and mbok Sarni very excited once because his home was not lonely anymore. All the work can be completed quickly because of the help of golden cucumbers.

Finally, on a day when the Giants to claim the promise. Mbok Sarni very frightened and did not want to lose the golden cucumbers. Then mbok Sarni said, "O giant, came here two years. The more mature the child is, the more delicious to eat in ". The demon agreed and left the house mbok Sarni.

Two years is not a long time, so every day mbok Sarni find a way how to make their children do not carry the Giant. Heart mbok Sarni very worried, and finally one night mbok Sarni dream. In his dream, he was told that the cucumber gold recluse meet at Mt.
Sarni mbok morning sent gold cucumbers seeing a hermit. After meeting with the sage, golden cucumber and then talk about why he had come. The sage then gave him four small packets whose contents cucumber seeds, needles, salt, and shrimp paste. "Throw one at this package, if you're being chased by a giant," ascetic orders. Then cucumber meas home, and immediately save a bundle of the ascetic.

The next morning the giant came again to claim the promise. "O old woman, where was he? I can not stand to eat it, "cried the giant. Then mbok Sarni said, "Do you take a giant O my son, because I'm very fond of him. I better just what you eat ". Giants do not want to accept an offer from mbok Sarni, and finally angry. "Where's the boy? Where golden cucumbers? ", Cried the giant.
Because not bear to see mbok Sarni crying, then cucumbers sembunyinya gold out of place. "Here I am a giant, catch me if you can!", Shouted golden cucumbers.  Raksasapun chase, and cucumbers started throwing bags of gold that contains cucumber. Miraculously, the forest becomes dense fruit cucumber fields. Raksasapun be hampered, because the rod is kept wrapped around his cucumber. But at last the giant got off too, and began mngejar golden cucumber again. Then the golden cucumbers sprinkled second bag containing needles, in an instant tumbuhlan bamboo trees are very tall and sharp. With bloody feet as the giant bamboo sticking to pursue.
Then the golden cucumbers opened the third parcel that contains salt. Immediately hutanpun a vast ocean. But the ocean is easily passed the giant. The latter finally sprinkled gold Cucumber paste, immediately formed a boiling sea of ​​mud, and the giant fell on it. Raksasapun eventually die.

Golden Cucumber thank God Almighty, because it was saved from a cruel giant. Finally Cucumber Gold and Mbok Sarni happy and peaceful life.

Comments